Sejarah Kajian Ilmu Farmasi 1

Pengantar

Sepanjang sejarah perjalanan hidup manusia, orang selalu berurusan dengan penyakit, sakit dan kematian, meskipun berbagai diagnosis dan penyembuhan telah dilakukan bervariasu dari berbagai daerah. Di banyak tempat, penyakit dipandang baik sebagai invasi tubuh oleh beberapa racun atau dikaitkan dengan kelakuan manusia yang membuat dewa marah dan atau ilmu sihir. Oleh karena itu, seseorang ahli dalam pengobatan atau dulu dikenal sebagai tabib untuk menyembuhkan pasien menggunakan tiga peran sekaligus yaitu sebagai dokter, apoteker, dan imam/pendeta/ulama, untuk sementara mereka percaya bahwa pengobatan medis bisa meringankan penyakit, penyebab utama hanya bisa dihilangkan dengan doa dan pengorbanan kepada para dewa. Berbagai catatan pengobatan kuno yang terkenal adalah Papyrus Eber di Mesir, dan Aryuveda di India, serta berbagai prasasti-prasasti lainnya yang tidak tercatat dengan baik.

Secara keilmuan sebelum datangnya Islam, perkembangan keilmuan sangat lambat bahkan tidak jalan sama sekali. Hal ini disebabkan karena pada jaman itu, barangsiapa yang mengemukakan gagasan baru dan belum ada dalam tradisi kebudayaan dan ajarannya pada waktu itu dilarang bahkan ditangkap dan dibunuh. Sebagai mana telah terjadi pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan di Eropa, yang melumpuhkan pergerakan ilmu pengetahuan kala itu. Pada masa kurun pertengahan keenambelas, terus menerus sampai permulaan pergerakan ilmiah dan revolusi bangsa Eropa, terjadi pemberontakan terhadap pihak gereja. Puncak dari pemikiran pemberontakan ini adalah terbentuknya The France National Assembly (Perhimpunan kebangsaan perancis) sebagai akibat dari revolusi perancis dengan menetapkan kebebasan ini, yang tujuannya adalah meniadakan campur tangan gereja, yang hidup dalam kependetaan dan kerahiban terhadap gagasan tentang keilmuan.

Sejak Islam berjaya, kondisi diatas berbanding terbalik dengan nasib gereja. Sama sekali tidak bertentangan atau perselisihan jalan kaum Muslimin dalam hal ilmu pengetahuan, baik dari segi teori maupun dari aplikasi nyata. Bahkan Islam menganjurkan untuk menganjurkan untuk menuntut ilmu, secara mutlak memberikan akal kedudukan yang bebas merdeka, mutlak dalam berpendapat, berfikir dan merenung, jauh dari cerita-cerita dongeng nenek moyang, taqlid, memperturutkan hawa nafsu dan ambisi. Jadi, terdapat perbedaan yang sangat kentara antara pemikirian Islam yang tegak atas dasar kebebasan berfikir dan hubungan antara Allah dan hamba tanpa adanya perantaraan. Ini merupakan pemikiran yang memperbaharui akal dan merupakan inti antara pemikiran Masehi dalam abad pertengahan yang bersumber dari kebebasan berfikir yang meletakkan penguasa gereja di antara hamba dan Tuhan.

Para ilmuwan kaum Muslimin tidak hanya mencukupkan diri dengan mengkritik teori-teori terdahulu dan menyelidikinya, tetapi kebanyakan mengadakan penyelidikan tentang sesuatu yang baru dan berlaku, kemudian menyelidikinya sampai pada suatu kesimpulan yang benar terjadi pada teori tersebut. jika memang terbukti bahwa teori itu mendekati kebenaran, lalu menyelidiki teori tersebut sampai ditetapkan akhir dari penelitian mereka bahwa teori tersebut merupakan hakikat kebenaran dan bukan hanya sebatas teori. Dari sudut aplikasi ilmu, kaum Muslimin juga telah mendahului dengan menggunakan metode baru yang terlihat pada masanya, khususnya jika peradaban kaum Muslimin itu dibandingkan dengan peradaban Romawi. Demikian kaum Muslimin mengubah dari ruang lingkup dan metode pemikiran para ilmuwan terdahulu. Pertama kali dalam catatan sejarah, kaum Muslimin telah menciptakan spesifikasi ilmiah secara sempurna. Banyak sekali para pakar ilmu yang menguasai bidang-bidang tertentu, untuk mengeluarkan kita pada puncak realita sempurna yang membawa manfaat, yang sebelumnya tidak terlihat cahayanya kecuali berpegang lebih banyak pada spesifikasi-spesifikasi ilmu.

Dalam Islam, ilmu dikenal dengan beberapa nama seperti Ilmu Kauniyah (Alam), Ilmu Taqniyah (Teknik), Ilmu Tathbiqiyah (Praktik), dan Ilmu Eksperimen. Semua ilmu ini penyebutannya digolongkan dalam ilmu hayat lantaran berbeda dengan ilmu syariat. Ilmu hayat berhubungan dengan kemashalatan dunia. Yakni ilmu yang bermanfaat yang berguna bagi manusia dengan menggunakan akal, eksperimen dan penemuan. Dengan demikian, manusia bisa memakmurkan bumi dan membuat kemashalatan serta membuka peluang, menyingkap rahasia alam dan lingkungan. Diantaranya adalah Ilmu kedokteran (sudah termasuk ilmu farmasi didalamnya terutama tentang bahan-bahan yang digunakan untuk penyembuhan), arsitektur, ilmu astronomi, kimia, fisika, matematika (sawail), geografi, ilmu bumi, tumbuh-tumbuhan (nabati), hewan, dan sebagainya yang meliputi segala materi yang tumbuh di alam semesta. Semua itu dibutuhkan manusia untuk kemashalatan kehidupan mereka.

Ilmu farmasi (Apoteker) muncul setelah Jabir bin Hayyan dan Khalid bin Yazid menciptakan rumus-rumus dan dasar-dasar ilmu kimia yang memasukkan eksperimen ilmiah (uji coba ilmiah), mereka melakukan eksperimen – eksperimen dalam metode pembahasan  ilmu yang digambarkan dalam rumusnya. Ilmu kimia berpindah dan berkembang dari tahap permulaan terjemah Yunani menuju tahap pencapaian rumus dan penemuan yang jelas. Atas dasar inilah metode eksperimen ini tegak, sebagaimana beliau katakan “Kesempurnaan penguasaan penciptaan ilmu ini akibat dari eksperimen. Siapa yang tidak berbuat, ia tidak akan mecoba. Siapa yang tidak mencoba, ia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu selamanya.”

Dengan penemuan ilmu kimia dan menjelaskannya sebagai ilmu pengetahuan, mereka mampu menguraikan beberapa bahan atau materi yang tidak terbatas pada penguraian secara kimia. Mereka juga melahirkan karya dalam bidang pepohonan, membedakan antara alkali dan asin masam, menghitung bahan-bahan (materi) yang condong kearahnya, mereka juga mempelajari ratusan obat-obat kedokteran, menyusun dan membuat ratusan obat-obat. Keduanya telah menulis banyak buku yang diterjemahkan kedalam bahasa latin, yang menjadi rujukan paling hebat pada bidang kimia hampir seribu tahun lamanya. Karyanya meliputi banyak catatan ilmu kimia yang belum pernah dikenal sebelumnya. Karyanya menjadi bahan penelitian terkenal di kalangan para ilmuwan barat, antara lain gelas atau piala (alu:alat penumbuk obat), Protolia, akar-akaran adalah sumber-sumber yang diletakka dalam zat-zat timbul tenggelam dalam air. Ia juga memecah-mecah berat yang menorehkan pengaruh sekitarnya bagi para ilmuwan dan menjadikannya sebagai bahan penelitian.

Secara umum kaum Muslimin telah menemukan dasar-dasar terpenting dalam ilmu kimia dan segala misterinya. Diantara yang paling penting dalam penemuan mereka adalah air perak (asam neutrik), minyak zat (asam kibritik), air emas (asam neuro hidroklorik), hajar jahannam (neutro perak), silmani (campuran klorida), rasib merah (campuran oksid), milhu barut (potasium karbonat), zat besi. Mereka juga menemukan alkohol, potas (kalium karbonat), amoniak, dan Al-Quluyad yang dimasukkan dalam bahasa Eropa dengan nama Arab adalah Alkali. Mereka juga telah menggunakan ilmu kimia sebagai pengobatan kedokteran dan menciptakan obat-obatan. Merekalah orang pertama yang menyebarluaskan campuran obat, membuat tambang, cara penambangan, dan membersihkan tambang. Banyak temuan yang dijadikan sebagai acuan dari penciptaan-penciptaan baru sekarang, seperti: sabun, kertas, sutera, celupan atau warna, bahan peledak, menyamak kulit, mengeluarkan bau obat-obatan, menciptakan baja, mengkilaukan tambang, dan sebagainya.

Kemajuan kaum muslimin di bidang kimia menghantarkan mereka untuk memperoleh capaian penting di berbagai cabang ilmu pengetahuan khususnya ilmu Apoteker (farmasi) kedepannya. Demikian itu, lantaran obat-obatan membutuhkan kajian penelitian berdasarkan rumus-rumus dan dasar-dasar ilmu kimia. Hingga muncul obat-obat kimia dalam bentuk yang efektif, membuka pintu-pintu zaman batu dalam bidang pengobatan di atas pergulatannya. Farmasi kedepannya merupakan ilmu yang sangat menarik sebagaimana masa pertama dari awal peradaban yang mengkaji dan diketahui campuran obat-obatan dalam bentuk ilmiah dan efektif dengan cara yang baru. Namun, pada masa itu istilah farmasi sebenarnya belum spesifik dikenal sebagai ilmu karena masih merupakan perpaduan ilmu antara kimia dan kedokteran terutama dalam hal kajian secara ilmia obat-obatan.

Sejarah farmasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri dimulai pada awal abad ke-19. Sebelum itu farmasi berkembang dari zaman farmasi kuno sebagai bagian dari ilmu kedokteran, setelah Raja Ferederck II membuat undang-undang pemisahan antara farmasi dan kedokteran. Meskipun secara de facto profesi farmasi telah dijalankan dan dapat ditelusuri kembali terutama pada populasi masyarakat Sumeria yang tinggal di Irak modern. Dari sekitar 4000 SM, mereka menggunakan tanaman obat seperti akar manis, mustard, mur, dan opium. Para tabib dalam menyembuhkan pasien, ada beberapa orang yang terpisah bekerja dan fokus untuk mempersiapkan obat-obata, sebagai peran yang terpisah dari diagnosis dan pengobatan yang dilakukan oleh tabib/petugas medis. Peran apoteker ini juga dikombinasikan dengan peran mereka sebagai imam/pendeta. Tabib Sumeria menulis resep dari sejak awal sekitar 2700 SM atau sekitar 5000 tahun yang lalu. Bangsa Mesir Kuno memiliki penyusun/penyedia khusus obat, dikenal sebagai Pastophor. Farmasi dipandang sebagai cabang status yang tinggi dari bagian kedokteran, dan seperti di Sumeria, apoteker ini juga menjadi imam/pendeta dan berlatih di kuil-kuil. Untuk mempertahanka pengobatan Papyrus, terutama dibuat catatan yang disebut Eber Papyrus yang berasal sekitar 1500 SM. Orang mesir membuat sediaan obat dalam bentuk infus, salep, pastiles (lozenges), suppositoria, lotion, enema, dan pil. Papryrus Eber berisi sebanyak 875 resep obat dan 700 daftar obat. Sementara itu, di Cina pada sekitar era yang sama (2000 SM), seorang pria bernama Shen Nung menulis Pen T’sao atau dikenal herbal asli yang berisi deskripsi dari 365 obat nabati pada dinasti Han. Di Jepang, pada periode akhir Asuka (538-710) dan awal periode Nara (710-794), orang-orang tertentu melakukan peran sebagai apoteker modern yang sangat dihormati. Tempat apoteker dalam masyarakat itu secara tegas ditetapkan dalam Taiho Code (701) dan dinyatakan kembali dalam Yoro Code (718).

Sejak didirikannya Apotek (Pharmacy) atau toko obat pertama di Baghdad pada tahun 754 M dibawah khalifaf Abbasi selama masa kejayaan Islam, dan diatur secara resmi oleh negara melalui peraturan perundang-undangan. Sejak itu Ilmu Farmasi mulai dikenal dan terus berkembang seiring perkembangan ilmu-ilmu lain terutama kedokteran dan kimia. Bagdad menjadi ibukota kekhalifahan Timur. Pemerintahan ini mengembangkan ilmu pengetahuan, pengobatan dan farmasi serta mendorong koleksi, penyalinan dan penerjemahan manuskrip-manuskrip Yunani sehingga karya-karya Hippocrates, Galen, Dioscorides diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Terjemahan ini ternyata dapat melestarikan karya-karya Yunani klasik tersebut sehingga membebaskannya dari kepunahan. Termasuk karya Dioscorides dan Galen kedalam bahasa Arab.

Buku Panduan De Materia Medica of Dioscorides yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab (Sumber Wikipedia)

Kemajuan yang dibuat di Timur Tengah terutama dalam ilmu botani dan ilmu kimia dipimpin kedokteran dala abad pertengahan sehingga secara substansial untuk mengembangkan Farmakologi adalah Muhammad bin Zakariya Ar-Razi (Rhazes) (865-915), yang bertindak untuk mempromosikan penggunaan medis dari senyawa kimia. Rhazes (865-925) yang seangkatan dengan Hippocrates, Aretaceus dan Sydenham. Deskripsinya tentang cacar dan dan campak dianggap begitu hidup dan lengkap. Continens, satu ensiklopedi pengobatan yang disusunnya, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Latin banyak berisi berbagai eksperimen terapi. Sabur Ibnu Sahl (869) merupakan dokter pertama yang memulai membuat pharmacopedia, yang menggambarkan erbagai macam obat dan obat untuk penyakit. Ali Abbas (994) adalah pengarang dari ‘’Buku Diraja’’ suatu risalah pengobatan yang telah diterjemahkan dalam bahasa Latin dan memuat  antara lain tentang anatomi. Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (Abulcasis) (939-1013) mempelopori pembuatan obat-obatan oleh sublimasi dan distilasi. Al-Biruni (973-1050) menulis salah satu karya Islam yang paling berharga dalam bidang Farmakologi berjudul kitab Al-Saydalah (Kitab Obat), dimana ia memberikan pengetahuan rinci tentang sifat obat dan dijelaskan peran apoteker serta fungi dan tugas apoteker. Ibnu Sina (Avicenna) (980-1037) adalah orang yang dijuluki Pangeran Tabib. Dia menulis lebih dari 100 karya dan yang pertama-tama membuat deskripsi tentang sifat-sifat asam sulfat dan alkohol. Dia pula yang memperkenalkan pil opium untuk menyembuhkan batuk dan ekstrak colchici untuk mengobati reumatik. Kedua jenis obat ini masih dipakai sampai sekarang. Beliau mencatat keseluruhan obat terkait dengan sifat obat, mekanisme aksi, dan indikasi yang disebut The Canon of Medicine, dan Ibnu Al-Walid (1008-1074), menerjemahkan karya-karya tersebut kedalam bahasa latin lebih dari lima puluh kali sebagai De Medicinis universalibus et particularibus by `Mesue’ the younger, and the Medicamentis simplicibus by `Abenguefit’. Selain itu, Orang-orang Arab melakukan perbaikan-perbaikan terhadap produk- produk farmasi dan membuatnya menjadi lebih elok dan lebih enak. Farmasi dan materia medikanya tetap hidup sepanjang abad.

Di Eropa pada awal abad ke-16, Paracelcus menampilkan khasiat garam-garam stibium sebagai obat serbaguna. Selama satu periode terapi logam mendominasi resep-resep tradisional. Salah satu pengobatan rerempah yang terbesar diperkenalkan di Eropa pada abad ke-17 oleh misionaris Jesuit  yang menyertai Conquistador Spanyol dalam eksplorasinya ke jantung Amerika Selatan. Rempah yang diperkenalkan adalah klika kina yang diperoleh dari Indian Amerika Selatan yang telah lama menggunakannya sebagai obat untuk melawan demam yang menggigil. Segera obat tersebut menjadi terkenal di Eropa sebagai obat untuk demam, menggigil dan malaria. Dua abad berikutnya yakni pada tahun 1820 zat aktifnya yakni kuinina, baru dapat diisolasi. Walaupun sejumlah besar obat-obat organik yang berasal dari tumbuhan ditemukan pada abad ke-16 dan 17 itu, namun karena kemajuan ilmu kimia organik kalah cepat daripada kimia anorganik maka obat-obat yang berasal dari mineral tetap lebih disukai.

Sejak akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 lebih dari 500 buku yang paling berpengaruh dan klasik di Eropa adalah buku Dioscorides yang berjudul De materia medica. Sampai penemuan kembali cetakan yang dibuat pada pertengahan abad ke-15 oleh orang Eropa Gutenberg. Teks-teks berupa kodeks tulisan tangan yang khususnya digunakan oleh kependetaan dan pelajar-pelajar biara. Penyebaran informasi yang lebih luas mengenai tumbuhan obat di Eropa dimulai dengan herbal-herbal awal yang secara epat menjadi sangat populer sehingga informasi mengenai tumbuhan obat tersedia dalam berbagai bahasa awam. Pada akhir abad ke-17 dan awal abad 18, pengetahuan tentang obat yang berasal dari tumbuhan semakin meluas tetapi usaha-usaha untuk mendestilasi zat aktif dari tumbuha tidak berhasil. Hasil utama selama periode ini merupakan hasil observasi detail mengenai manfaat klinis produk-produk medis yang telah dicatat pada abad sebelumnya atau diambil dari negara selain Eropa.

Pada abad ke-18, seorang Inggris, Withering memperkenalkan pemakaian ekstrak tumbuhan digitalis untuk pengobatan penyakit gembur-gembur, yaitu sakit lemah jantung yang gejalanya ditandai dengan akumulasi cairan secara berlebihan pada bagian bawah dari tungkai penderita. Dia memakai ekstrak ini atas nasihat orang-orang desa yang telah bertahun-tahun memakai elixir ini. Ini merupakan satu contoh penyelidikan bagi ahli obat dalam menjejaki dan mengembangkan bahan obat penuntun dari budaya tradisional. Zat aktifnya, glikosida digitalis, sampai sekarang masih dipakai untuk pengobatan penyakit gagal jantung yang cukup menakutkan itu. Walaupun diakui bahwa penemuan-penemuan tersebut merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia tetapi satu kenyataan bahwa baru pada 150 tahun terakhir ini, berkat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, jumlah dan jenis obat berkembang sedemikian melimpah.

Pada tahun 1828 Wohler, yang berhasil mensintesis urea dari senyawa-senyawa anorganik, menyingkapkan bahwa pada dasarnya tidak ada yang misterius tentang senyawa organik dan meletakkan dasar-dasar kimia organik. Sejak saat itu, para ahli telah mampu untuk mensintesis senyawa-senyawa yang berstruktur kompleks, termasuk banyak di antaranya senyawa yang terdapat dalam alam; dan banyak pula yang tidak, yang ternyata aktif farmakologis. Jadi senyawa penuntun tidak lagi menjadi monopoli senyawa alam.

Bersambung…………

Be Sociable, Share!