FALSAFAH BIDANG ILMU BIOLOGI FARMASI

PENDAHULUAN
Sepanjang sejarahnya manusia dalam usahanya memahami dunia sekelilingnya mengenal dua sarana, yaitu pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) dan penjelasan gaib (mystical exploitation). Kini di satu pihak manusia memiliki sekelompok pengetahuan yang sistematis dengan berbagai hipotesis yang telah dibuktikan kebenarannya secara sah, tetapi dipihak lain sebagian mengenal pula aneka keterangan gaib yang tidak mungkin diuji sahnya untuk menjelaskan rangkaian peristiwa yang masih berada di luar jangkauan pemahamannya. Di antara rentangan pengetahuan ilmiah dan penjelasan gaib itu terdapatlah persoalan ilmiah yang merupakan kumpulan hipotesis yang dapat diuji, tetapi belum secara sah dibuktikan kebenarannya.

Ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaahan (study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attempt to find), atau pencarian (search). Oleh karena itu, pencarian biasanya dilakukan berulang kali, maka dalam dunia ilmu kini dipergunakan istilah research (penelitian) untuk aktivitas ilmiah yang paling berbobot guna menemukan pengetahuan baru. Dari aktivitas ilmiah dengan metode ilmiah yang dilakukan para ilmuwan dapatlah dihimpun sekumpulan pengetahuan yang baru atau disempurnakan pengetahuan yang telah ada, sehingga di kalangan ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya terdapat kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan yang sistematis.

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoretis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah, dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen, yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.

Dalam perkembangan lebih lanjut, filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar dan bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.

Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.

Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir kembali di tengah-tengah perkembangan IPTEK yang telah begitu plural. Adapun kepentingan yang begitu mendesak ini adalah meluruskan arah proses perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya arah pemanfaatannya.

Filsafat ilmu pengetahuan merupakan suatu bidang studi mengenai ilmu pengetahuan. Hal ini, karena filsafat itu adalah ilmu pengetahuan yang selalu mencari hakekat, berarti filsafat ilmu pengetahuan berusaha mencari “keseragaman” daripada “keanekaragaman” ilmu pengetahuan.

Farmasi sebagai seni dan ilmu dalam penyediaan obat dari bahan alam, dan bahan sintetis yang sesuai untuk didistribusikan, dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan penyakit, hadir di tengah-tengah pluralitas ilmu pengetahuan. Kehadirannya sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang teoritis sampai pada yang praktis teknologis diharapkan senantiasa mengalami pencerahan sesuai tujuan awal dari keberadaannya.

Melihat adanya fenomena yang di dalam proses perkembangannya, farmasi mengalami pergeseran nilai, sehingga diperlukan sebuah rekonstruksi dalam perspektif filsafat ilmu pengetahuan.

KLASIFIKASI DAN HIRARKI ILMU
Klasifikasi atau penggolongan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan atau perubahan sesuai dengan semangat zaman. Pemunculan suatu cabang ilmu baru terjadi karena beberapa syarat. Bert Hoselitz menyebut adanya Pembentukan suatu disiplin khusus yang baru dalam bidang ilmu manapun berkaitan dengan tiga syarat. Pertama, yaitu eksistensi dan pengenalan seperangkat problem-problem baru yang menarik perhatian beberapa penyelidik. Kedua, yaitu pengumpulan sejumlah cukup data yang akan memungkinkan penggerapan generalisasi-generalisasi  yang cukup luas lingkupnya untuk menunjukkan ciri-ciri umum problem-problem yang sedang diselidiki. Ketiga, yaitu pencapaian pengakuan resmi atau institusional terhadap disiplin baru itu.

Dengan berkembangnya demikian banyak cabang ilmu khusus, timbullah masalah pokok tentang penggolongan ilmu-ilmu itu atau pembagiannya. Klasifikasi merupakan pengaturan yang sistematik untuk menegaskan definisi sesuatu cabang ilmu, menentukan batas-batasnya dan menjelaskan saling hubungannya dengan cabang-cabang yang lain. Ada beberapa pandangan yang terkait dengan klasifikasi ilmu pengetahuan, yaitu sebagai berikut:

1)      Pada Zaman Purba dan Abad Pertengahan

Pembagian ilmu pengetahuan pada zaman ini berdasarkan “artis liberalis” atau kesenian yang merdeka, yang terdiri atas dua bagian yaitu:

Trivium atau tiga bagian yaitu:
·   Gramatika, bertujuan agar manusia dapat berbicara yang baik.

·   Dialektika, bertujuan agar manusia dapat berpikir baik, formal dan logis.

·   Retorika, bertujuan agar manusia dapat berbicara dengan baik.

Quadrivium atau empat bagian yaitu:
·         Aritmatika yaitu ilmu hitung.

·         Geometrika yaitu ilmu ukur.

·         Musika yaitu ilmu musik.

·         Astronomia yaitu ilmu perbintangan.

2) Francis Bacon

Francis Bacon mendasarkan klasifikasi ilmunya pada subjeknya, yaitu daya manusia untuk mengetahui sesuatu. Berdasarkan hal tersebut, ia membeda-bedakannya sebagai berikut:

Ilmu pengetahuan ingatan yaitu membicarakan masalah-masalah atau kejadian yang telah lalu, meskipun dimanfaatkan untuk masa depan.
Ilmu pengetahuan khayal yaitu membicarakan kejadian-kejadian dalam dunia khayal, meskipun berdasar dan untuk keperluan dunia nyata.
Ilmu pengetahuan akal yaitu umumnya pembahasannya mengandalkan diri pada logika dan kemampuan berfikir.
Klasifikasi tersebut tidak dapat dibenarkan apabila apabila pemikiran kita berpangkal pada pandangan bahwa kita tidak akan mungkin mengenal dengan akal, ingatan, atau daya khayal semata, tetapi dengan seluruh pribadi kita.

3) Aristoteles

Aristoteles memberikan suatu klasifikasi berdasarkan objek formal yaitu ilmu teoritis (spekulatif), praktis, dan poietis (produktif). Ilmu teoritis bertujuan bagi pengetahuan itu sendiri, yaitu untuk keperluan perkembangan ilmu. Ilmu praktis yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan mencari norma atau ukuran bagi perbuatan kita. Poietis yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan menghasilkan suatu hasil karya, alat, dan teknologi.

4)  Wilhelm Windelband

Wilhelm Windelband membeda-bedakan ilmu pengetahuan alam (naturwissenschaf) dan ilmu sejarah (geschichtswissenschaft). Menurutnya, kedua jenis ilmu pengetahuan itu tidak berbeda dalam hal objeknya karena objeknya satu yaitu kenyataan. Adapun perbedaannya terletak pada metode. Metode untuk naturwissenschaf disebut nomotetis yaitu berhubungan dengan nomos atau norma yang menunjuk pada adanya usaha untuk membuat hal umum atau generalisasi. Sedangkan geschichtswissenschaft menggunakan metode ideografis yaitu tertuju pada hal yang sifatnya individual atau tidak umum, tetapi menuju individualisasi, serta hanya terjadi sekali atau bersifat einmalig. Artinya, tidak dapat diulangi dan tidak pula dapat diduga atau diramalkan. Metode ini semata-mata suatu usaha untuk melukiskan gagasan atau ide dari objek.

5) Auguste Comte

Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dikemukakan Auguste Comte sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte sebagai berikut:

Ilmu Pasti (Matematika) merupakan dasar bagi semua ilmu pengetahuan.
Ilmu Perbintangan (Astronomi) dapat menyusun hukum yang bersangkutan dengan gejala benda langit.
Ilmu Alam (Fisika) merupakan ilmu yang lebih tinggi dari ilmu perbintangan.
Ilmu Kimia (Chemistry), gejala-gejala dalam ilmu kimia lebih kompleks daripada ilmu alam.
Ilmu Hayat (Fisiologi atau Biologi) merupakan ilmu yang kompleks dan berhadapan dengan gejala kehidupan.
Fisika Sosial (Sosiologi) merupakan urutan tertinggi dalam penggolongan ilmu pengetahuan.
Atau secara garis besar dapat diskemakan sebagai berikut:

Ilmu Pengetahuan; a. Logika (matematika murni); b.Ilmu pengetahuan empiris: astronomi, fisika, kimia, biologi, sosiologi.
Filsafat: a. Metafisika; b. filsafat ilmu pengetahuan: pada umumnya; pada khususnya.
6) The Liang Gie

The Liang Gie membagi pengetahuan ilmiah berdasarkan dua hal, yaitu ragam pengetahuan dan jenis pengetahuan. Pembagian ilmu menurut ragamnya mengacu pada salah satu sifat atributif yang dipilih sebagai ukuran. Pembagian ini hanya menunjukkan sebuah ciri dari sekumpulan pengetahuan ilmiah. Sifat atributif yang akan dipakai dasar untuk melakukan pembagian dalam ragam ilmu adalah sifat dasar manusia yang berhasrat mengetahui dan ingin berbuat. Dengan demikian The Liang Gie membagi ilmu dibedakan menjadi dua ragam, yaitu ilmu teoritis (theoretical science) dan ilmu praktis (practical science).

Pembagian selanjutnya sebagai pelengkap pembagian menurut ragam adalah pembagian ilmu menurut jenisnya. Menurut The Liang Gie ada enam jenis objek material pengetahuan ilmiah, yaitu ide abstrak, benda fisik, jasad hidup, gejala rohani, peristiwa sosial, dan proses tanda.

Berdasarkan enam jenis pokok soal di atas, the Liang Gie membagi ilmu menjadi tujuh jenis, yaitu seperti yang digambarkan pada tabel berikut:

No.   Jenis Ilmu                                                     Ragam Ilmu
Ilmu Teoritis                                  Ilmu Praktis
1.  Ilmu-ilmu matematis    Aljabar, Geometri                          Accounting,     Statistik
2. Ilmu-ilmu fisis                Kimia,   Fisika                                Keinsinyuran,  Metalurgi
3. Ilmu-ilmu biologi           Biologi molekuler, Biologi sel      Pertanian, Peternakan
4. Ilmu-ilmu psikologis     Eksperimental, Perkembangan   P. Pendidikan, P. Perindustrian
5. Ilmu-ilmu sosial              Antropologi, I. Ekonomi              I. Administrasi, I. Marketing
6. Ilmu-ilmu linguistik       L. Teoritis, L. Perbandingan       L. terapan, Seni terjemahan
7. Interdisipliner                 Biokimia, Lingkungan                 Farmasi, Ilmu perencanaan kota

7) Al-Ghazali

Al-Ghazali secara filosofis membagi ilmu ke dalam ilmu syar’iyyah dan ilmu aqliyyah yaitu sebagai berikut:

1.    Ilmu Syar’iyyah

a)    Ilmu tentang prinsip-prinsip dasar (al-ushul) yaitu Ilmu tentang keesaan Tuhan (al-tauhid), Ilmu tentang kenabian, Ilmu tentang akhirat atau eskatoogis, dan Ilmu tentang sumber pengetahuan religious. Yaitu Al-Quran dan Al-Sunnah (primer), ijma’ dan tradisi para sahabat (sekunder), ilmu ini terbagi menjadi dua kategori:

Ilmu-ilmu pengantar (ilmu alat)
Ilmu-ilmu pelengkap.

b)   Ilmu tentang cabang-cabang (furu’) yaitu Ilmu tentang kewajiban manusia kepada jiwanya sendiri (ilmu akhlak), Ilmu tentang kewajiban manusia terhadap Tuhan (ibadah) dan Ilmu tentang kewajiban manusia kepada masyarakat:

Ilmu tentang transaksi
Ilmu tentang kewajiban kontraktual
2.     Ilmu Aqliyyah

a)      Matematika: aritmatika, geometri, astronomi dan astrologi, music

b)      Logika

c)      Fisika/ilmu alam: kedokteran, meteorology, mineralogy, kimia

d)     Ilmu tentang wujud di luar alam, atau metafisika:

Ontologi

Pengetahuan tentang esensi, sifat, dan aktivitas Ilahi, Pengetahuan tentang substansi-substansi sederhana, Pengetahuan tentang dunia halus, dan Ilmu tentang kenabian dan fenomena kewalian ilmu tentang mimpi.

Teurgi (nairanjiyyat). Ilmu ini mengemukakan kekuatan-kekuatan bumi untuk menghasilkan efek tampak seperti supernatural.

Pembagian ilmu-ilmu dewasa ini menimbulkan perincian yang dinamakan disiplin ilmu dan cabang ilmu dalam masyarakat ilmuwan. Saat ini, klasifikasi ilmu didukung banyak ahli. Adapun ilmu tersebut dibagi menjadi:

1)     Ilmu pengetahuan Aprori (rasional). Teori ilmu pengetahuan menuntut penyadaran kita terhadap pengertian pengetahuan. Penyadaran terhadap pengetahuan yang berdasarkan pengalaman serta pengetahuan yang tidak bergantung pada pengalaman. Penyadaran pertama menimbulkan pengetahuan apriori (sebelum pengalaman). Penyadaran kedua atau terakhir menghasilkan ilmu pengetahuan aposteroiri (sesudah pengalaman).

2)      Ilmu pengetahuan alam dan rohani. Ilmu pengetahuan alam dan rohani berbeda karena objeknya. Perbedaan pertama, berobjekan pada hal-hal yang cukup dijangkau atas dasar kategori kausalitas. Dengan kata lain, objek ilmu tersebut dapat diterangkan dengan mempersoalkan sebabnya. Objek ilmu pengetahuan rohani yaitu manusia dengan kehidupan rohaninya, tidak mungkin hanya dipandang sebagai benda mati atau benda hidup.

Selain itu tedapat pula pengkalsifikasian ilmu yang terdapat dalam Undang-Undang Pokok Pendidikan tentang Perguruan Tinggi Nomor: 22 Tahun 1961 di Indonesia yang terdiri atas empat kelompok sebagai berikut:

Ilmu Agama/Kerohanian, yang meliputi: Ilmu Agama dan Ilmu Jiwa
Ilmu Kebudayaan, yang meliputi: Ilmu Sastra, Ilmu Sejarah, Ilmu Pendidikan, Ilmu Filsafat.
Ilmu Sosial, yang meliputi: Ilmu Hukum, Ilmu Ekonomi, Ilmu Sosial Politik, Ilmu Ketatanegaraan dan Ketataniagaan
Ilmu Eksakta dan Teknik, yang meliputi: Ilmu Hayat, Ilmu Kedokteran, Ilmu Farmasi, Ilmu Kedokteran Hewan, Ilmu Pertanian, Ilmu Pasti Alam, Ilmu Teknik, Ilmu Geologi, Ilmu Oceanografi, dan lain-lain
Hierarki ilmu merupakan urutan atau tingkatan dari ilmu. Secara umum ada tiga basis yang sangat mendasar dalam menyusun secara hierarkis ilmu-ilmu metodologis, ontologism dan etis. Sebagaimana telah dikemukakan suatu disiplin ilmu terbagi dalam sejumlah specialty yang dalam bahasa Indonesia sebaiknya disebut cabang ilmu. Cabang ilmu atau specialty pada umumnya juga telah tumbuh cukup luas sehingga dapat dibagi lebih terperinci menjadi beberapa ranting ilmu. Kadang-kadang sesuatu ranting ilmu yang cukup pesat pertumbuhannya bisa mempunyai perincian lebih lanjut yang sebut tangkai ilmu.

Semua bentuk pengetahuan dapat dibeda-bedakan atau dikelompokkan dalam berbagai kategori atau bidang, sehingga terjadi diversifikasi bidang ilmu pengetahuan atau disiplin ilmu yang berakar dari kajian filsafat, yaitu seni (Arts), etika (Ethics), dan Sains (Science). Farmasi ditinjau dari kelahirannya hingga perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan secara universal yang pondasinya dibangun oleh dua entitas, yakni filsafat moral dan filsafat alam.

Filsafat moral melahirkan Behavior Sciences atau ilmu-ilmu tentang prilaku manusia. Oleh karena manusia itu memang merupakan objek istimewa bagi penyelidikannya sendiri, maka mungkin juga diselidiki dari sudut tingkah lakunya, bukanlah tindakan yang sesuai dengan tingkah lain-lain yang bukan manusia, melainkan yang khusus bagi manusia, yaitu tindakan-tindakan yang terdorong oleh kehendaknya diterangi oleh budinya (moralnya).

Sedangkan dalam filsafat alam (cosmologia), menyelidiki alam ini, yang oleh filsafat alam dicari inti alam itu, apakah sebenarnya alam itu, apakah sebenarnya isi alam pada umumnya, dan apa hubungannya satu sama lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. Alam ini merupakan ada yang tidak mutlak, karena adanya tidak dengan niscaya. Segala isi alam dengan adanya sendiri itu mungkin banyak tak ada. Tetapi dalam alam itu adalah sesuatu yang mempunyai kedudukan istimewa, yang menyelidiki semua itu: Manusia (Human Being).

Penyelidikan terhadap alam melahirkan berbagai cabang ilmu ke dalam ilmu-ilmu sebagai Pure Sciences yakni Fisika, Biologi, Kimia, dan Matematika. Keempat ilmu alam itu merupakan kerangka dasar yang membangun ilmu-ilmu terapan yang berbasis kealaman seperti ilmu kesehatan, ilmu teknik, ilmu pertanian, dan lain sebagainya.

Farmasi ditinjau dari objek materinya, memiliki kerangka dasar dari ilmu-ilmu alam; Kimia, Biologi, Fisika dan Matematika. Sedangkan ilmu farmasi ditinjau dari objek formalnya merupakan ruang lingkup dari ilmu-ilmu kesehatan. Secara historis ilmu farmasi dikembangkan dari medical sciences, yang berdasarkan kebutuhan yang mendesak perlunya pemisahan ilmu farmasi sebagai ilmu pengobatan dari ilmu kedokteran sebagai ilmu tentang diagnosis.

Adalah Hipocrates (460-357 SM) yang merupakan peletak dasar ilmu kedokteran mencetuskan ide pemilahan farmasi dari kedokteran dengan mencetuskan simbol farmasi dan kedokteran secara terpisah. Namun yang sangat mengesankan, dan telah dijadikan tonggak kelahiran farmasi adalah ketika Kaisar Frederik II pada tahun 1240 mengeluarkan undang-undang negara tentang pemisahan farmasi dari kedokteran yang diajarkan dan dipraktekkan secara terpisah.

Ilmu farmasi pada perkembangan selanjutnya mengadopsi tidak hanya ilmu kimia, biologi, fisika, dan matematika, melainkan termasuk pula dari ilmu-ilmu terapan seperti pertanian, teknik, ilmu kesehatan, bahkan dari behavior science.

Berdasarkan  ulasan diatas, dapat dikatakan bahwa disatu pihak farmasi tergolong seni teknis (Technical arts) apabila ditinjau dari segi pelayanan dalam penggunaan obat (medicine); di lain pihak farmasi dapat pula digolongkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam (natural science).

Berdasarkan cakupan Farmasi sebagai ilmu diatas, secara umum terbentuk cabang-cabang ilmu farmasi yang terdiri dari Ilmu Farmasi sains dan teknologi, dan Ilmu Farmasi Klinik dan Komunitas. Kategori ilmu farmasi sains dan teknologi terus mengalami perkembangan menjadi beberapa bidang yang meliputi, Kimia Farmasi, Biologi Farmasi, Farmakologi, dan farmasetika dan Teknologi Farmasi, dimana masing-masing bidang terus mengalami spesialisasi. Demikian juga untuk Ilmu Farmasi Klinik dan Komunitas.

BIOLOGI FARMASI DALAM KONTEKS FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

Biologi Farmasi (dalam arti luas) ialah ilmu (terapan) dalam bidang farmasi berlandaskan biologi yang penerapannya mencakup penemuan, pengembangan dan produksi obat, standardisasi, pengendalian pengolahan serta penggunaan. Biologi farmasi mempunyai sub-disiplin dasar antara lain sitologi, genetika, mikrobiologi, botani, zoology, biokimia, biologi molekul, farmakologi, toksikologi, bioteknologi dan farmakognosi-fitokimia. Kaitan dengan ini farmakognosi-fitokimia ialah ilmu mengenai obat dan bahan pembantu yang berasal dari organisme (mikroba, tumbuhan dan hewan) dan organisme penghasilnya. Seringkali farmakognosi-fitokimia diartikan sebagai biologi farmasi dalam arti sempit. Dengan melihat definisi-definisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa bidang ilmu biologi farmasi diperlukan dalam praktek kefarmasian, dan khususnya di Indonesia hal ini memiliki nilai lebih karena berkaitan dengan banyaknya bahan alam (khususnya tumbuhan) yang digunakan sebagai bahan obat dan obat, yang tentunya hal itu memerlukan evaluasi, standardisasi ataupun pengembangan yang konsekuensinya akan didasari oleh ilmu biologi farmasi itu sendiri.

Ditinjau dari objek yang ditelaah, bidang ilmu Biologi Farmasi memiliki kerangka dasar ilmu-ilmu alam, yaitu biologi, kimia, fisika dan matematika. Dalam ilmu farmasi pembagian bidang keilmuan terutama biologi farmasi tidak ada yang baku dan pembagian tersebut masih tergantung kebijakan perguruan tinggi atau kelompok praktisi peneliti masing-masing bahkan beberapa perguruan tinggi tidak menggunakan istilah Biologi Farmasi, dan tetap ada yang menyebut Kelompok Farmakognosi-Fitokimia (misalnya ITB dan UNHAS) dan hal demikian juga terjadi di universitas-universitas di luar negeri, tetapi objek kajian yang dikaji dari kelompok ini sama, namun hanya menggunakan istilah yang berbeda.

Pembagian bidang ilmu misalnya Biologi Farmasi, Kimia Farmasi, Farmakologi, Farmasetika dan Teknologi Farmasi bukan berarti memecah belah Ilmu Farmasi itu sendiri dan kemudian masing-masing bidang ilmu berdiri sendiri, karena jika hal ini terjadi maka akan menyebabkan ilmu Farmasi akan mengalami blok-blok pada lintas bidang. Pembagian bidang ilmu ini hanya untuk mempermudah kita untuk lebih fokus menguasai bidang tertentu lebih dalam yang akan bersinergi dengan bidang lain sehinga bisa menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam hal peningkatan kualitas kesehatan.

Aspek Kajian Biologi Farmasi
Aspek Ontology

Dari aspek Ontology, yaitu eksistensi (keberadaan) dan essensi (keberartian) dari bidang ilmu Biologi Farmasi. Objek yang dibahas dalam bidang biologi farmasi sangatlah luas dan harus melibatkan disiplin ilmu lain seperti biologi (botani, mikrobiologi, Biologi sel dan molekuler), kimia, fisika, matematika sebagai alat komunikasi (bahasa) ilmu pengetahuan dan ilmu sosial lainnya (seperti ekonomi, hukum, perundang-undangan, sosiologi dan antropologi). Dalam kajian yang dilakukan dalam lingkup bidang ilmu Biologi Farmasi meliputi: Botani Farmasi, Farmakognosi-Fitokimia, dan Mikrobiologi-Bioteknologi.

Dalam Ilmu Mikrobiologi-Bioteknologi Farmasi merupakan kelompok ilmu farmasi yang merupakan bagian bidang ilmu biologi farmasi tetapi juga merupakan bagian ilmu bidang yang lain. Mengingat mikrobiologi dan bioteknologi dapat dimanfaatkan untuk mencarian bahan obat baru secara biologi baik dari cara isolasi dari bakteri atau jamur (terutama jamur endofit), kultur jaringan, sampai rekayasa genetika.

Dalam ilmu Botani Farmasi yang merupakan cabang dari biologi yang dikembangkan lebih lanjut mengenai sistematika dan morfologi tumbuhan, anatomi dan fisiologi tumbuhan, serta eksplorasi tumbuhan obat secara etnobotani. Bahasan tersebut akan menunjang kepada penggalian kepada tumbuh-tumbuhan sebagai obat baik dari identifikasi tanaman obat, kandungan kimia dan metode pemisahannya. Bidang Farmasi dalam ilmu botani ini dikembangkan lebih lanjut dalam ilmu farmakognosi, bahan alam farmasi dan fitokimia.

Dalam Ilmu Farmakognosi-Fitokimia yang merupakan cabang tertua dalam ilmu farmasi masuk dalam bidan Ilmu Biologi Farmasi yang dikembangkan lebih lanjut mengenai kajian tentang bahan-bahan farmasetis yang berasal dari mahluk hidup, meliputi: dimana terdapat dialam, biosintesanya, penentuan kadar secara kuantitatif di dalam bahan alam, dari mana bahan tersebut berasal, cara isolasinya, struktur kimiawi, sifat-sifat fisis dan kimiawi, penggunaan dan cara kerjanya. Termasuk juga dalam hal ini; cara penanaman, seleksi, pengumpulan, produksi, pengawetan, penyimpanan dan perdagangan dalam bentuk simpleks/simplisia dan galenik. Selain itu, yang paling penting dalam bidang ilmu biologi farmasi yaitu penyediaan bahan alam sebagai bahan baku obat atau obat yang terstandarisasi agar dapat digunakan oleh masyarakat secara aman, berkhasiat, dan bermutu. Bahkan lebih spesifik oleh The American Society of Pharmacognosy, 2001 menyatakan bahwa ruang lingkup Farmakognosi-Fitokimia meliputi: studi mengenai sifat fisika, kimia, biokimia dan biologi obat, bahan obat atau bahan lain  yang berpotensi sebagai obat yang berasal dari alam untuk mencari obat baru yang berasal dari bahan alam.

Para pakar dalam bidang ini tidak hanya selalu mencari senyawa baru dari alam baik secara etnobotani maupun secara etnofarmakologi, akan tetapi terus mengembangkan metode-metode untuk melakukan pengayaan material aktif dari bahan alam yang telah diketahui aktivitasnya. Mengingat metabolit sekunder yang dihasilkan oleh suatu organisme terutama tumbuhan sangat terbatas sehingga melakukan kajian-kajian yang lebih kompleks mulai dari budidaya, pemanenan, sampai metode pemisahan, sehingga organisme terutama tumbuhan tidak mengalami kepunahan. Bahkan lebih menariknya lagi kajian pengayaan metabolit sekunder secara rekayasa genetika. Semua metode-metode yang digunakan masih terus berkembang seiring perkembangan ilmu lain terutama perkembangan bidang ilmu farmasi lainnya.

2. Aspek Epistemologi

Dari Aspek Epistemologi, yaitu metode yang digunakan untuk membuktikan kebenaran bidang ilmu botani farmasi. Landasan epistemologis farmasi ialah logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis, yang dinamakan pula metode logiko-hipotetiko-verifikatif. Logika deduktif membicarakan cara-cara untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan bila lebih dahulu telah diajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai semua atau sejumlah logika di antara suatu kelompok masalah tertentu. Kesimpulan yang sah pada suatu penalaran deduktif sealu merupakan akibat yang bersifat keharusan dari pernyataan-pernyataan yang lebih dulu diajukan. Pembahasan mengenai logika deduktif itu sangat luas dan meliputi satu diantara persoalan-persoalan yang menarik. Logika induktif membicarakan tentang penarikan kesimpulan bukan dari pernyataan-pernyataan yang umum, melainkan dari pernyataan-pernyataan yang khusus. Kesimpulannya hanya bersifat probabilitas berdasarkna atas pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan.

Pembagian bidang ilmu biologi farmasi terutama Farmakognosi telah dimulai sejak manusia itu ada. Sejarah farmasi identik dengan sejarah farmakognosi, semenjak pemisahan farmasi dan kedokteran oleh Kaisar Frederik II pada Tahun 1240, banyak catatan dari negara-negara  Arab, Eropa, Cina dan Asia lainnya tentang penggunaan bahan alam sebagai obat. Namun secara eksplisit biologi farmasi khususnya farmakognosi dan bahan alam di Eropa mulai diperkenalkan dan dikembangkan pada abad ke-18 dan ke-19. Proses terbentuk dan pengembangannya tentu saja sejalan dengan perkembangan bidang ilmu farmasi lainnya dan bidang ilmu selain farmasi, tentu saja termasuk perkembangan ilmu filsafat saat itu.

Penyusunan Bidang Ilmu Biologi Farmasi didasarkan atas penemuan-penemuan. Teori-teori biologi farmasi (meliputi ilmu Botani Farmasi, ilmu Farmakognosi-Fitokimia, dan Mikrobiologi-Bioteknologi), baik dalam studi eksplorasi bahan alam (Hewan, Tumbuhan, mikroorganisme), identifikasi, karakterisasi, skrining aktivitas, rekayasa genetika, sampai penggalian informasi pengunaan bahan alam secara etnobotani dan etnofarmakologi. Disusun secara sistematik yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan dengan metode ilmiah yang mencirikan pada observasi, pengukuran, penjelasan dan verifikasi. Dengan mempergunakan metode logiko-hipotetiko-verifikatif.

3. Aspek Aksiologi

Dari aspek Aksiologi, yaitu manfaat dari bidan ilmu Biologi Farmasi. Di sini mempertanyakan apa nilai kegunaan pengetahuan tersebut. Kegunaan atau landasan aksiologis biologi farmasi adalah bertujuan untuk kesehatan manusia.

Alam telah menyediakan material yang diperlukan untuk peningkatan derajat kesehatan manusia, akan tetapi cara memperoleh dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna tidaklah mudah untuk mengetahuinya, karena alam masih menyimpan misteri-misteri yang sulit untuk dimengerti oleh manusia. Ilmu Biologi Farmasi diperlukan untuk mengkaji semuanya, bidang ilmu ini tertantang untuk mengungkap misteri-misteri yang ada di alam ini, sehingga akan menjadi kepuasan tersendiri oleh praktisinya jika telah berhasil mengungkap sebagian kecil misteri tersebut.

Dengan menerapkan bidang ilmu ini, memungkinkan praktisinya untuk menemukan sumber-sumber obat baru dari alam yang dibutuhkan untuk kesehatan manusia. Dengan demikian, penerapan bidang ilmu biologi farmasi dapat memberikan kontribusi dalam pengolahan dan penggunaan bahan alam sebagai obat untuk kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan lebih baik.

Penggunaan bahan alam sebagai obat oleh masyarakat untuk mengobati suatu penyakit maka diperlukan keahlian biologi farmasi dari berbagai aspek agar masyarakat dapat menggunakan bahan alam sebagai obat yang tepat, efektif, aman, dan berkhasiat.
Dengan pesatnya perkembangan obat herbal di Indonesia yang ditandai dengan semakin besarnya jumlah industri obat tradisional dan produk herbal baik dalam kategori jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka sangat dibutuhkan penelitian-penelitian yang berkualitas dalam berbagai bidang terkait. Kebijakan pemerintah tentang saintifikasi jamu mempertegas perlunya pendekatan-pendekatan ilmiah dalam penggunaan obat herbal sehingga dapat digunakan dengan tepat di masyarakat. Di samping produk herbal tersebut, bahan obat yang berasal dari bahan alam juga mengalami peningkatan. Penemuan senyawa baru yang dapat dijadikan senyawa model (lead compound) sangat dimungkinkan dengan berkembangnya teknologi dan peralatan yang mendukung. Penggunaan bahan alam tidak terbatas untuk pengobatan, tetapi juga dibutuhkan dalam bidang kosmetik, pangan, pangan fungsional suplemen dan lain-lain yang membutuhkan pengembangan setiap saat sehingga penelitian di bidang tersebut perlu medapatkan perhatian. Bidang ilmu Biologi Farmasi dengan sumberdaya dan keahlian yang ada berpartisipasi aktif bersama-sama stakeholder lainnya di dalam dan luar negeri untuk berkontribusi bagi perkembangan bahan alam Indonesia untuk berbagai tujuan terutama peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Bidang Ilmu Biologi Farmasi merupakan salah satu bidang ilmu farmasi yang penerapannya mencakup penemuan, pengembangan dan produksi obat, standardisasi, pengendalian pengolahan serta penggunaan bahan obat alami. Bidang ilmu biologi farmasi dari segi aspek kajiannya bukanlah bagian yang terpisahkan dari bidang ilmu lain dalam lingkup ilmu farmasi, namun melainkan bidang yang berfokus pada pengkajian bahan baku obat atau bahan obat secara biologi yang terus mengalami perkembangan seiring perkembangan ilmu-ilmu lainnya termasuk perkembangan ilmu filsafat. Bidang ilmu Biologi Farmasi dengan sumberdaya dan keahlian yang ada berpartisipasi aktif bersama-sama stakeholder lainnya di dalam dan luar negeri untuk berkontribusi bagi perkembangan bahan alam Indonesia untuk berbagai tujuan terutama dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat (peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Daftar Referensi

Bakhtiar, Amsal. 2005. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

George A. Bender, 2007.  Great Moments in Pharmacy. Apha Foundation. www.aphafoundation.org

Heinrich, M., Barnes, J., Gibbons, S., dan Williamson, E.M., 2005, Fundaentals of Pharmacognosy and Phytoteraphy. United Kingdom: Elsevier Limited, Oxford.

Kattsoff, Louis, O., 2004. Pengantar Filsafat. Alih Bahasa: Soejono Soemargono, Jogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Pandia, Wisma. Filsafat Ilmu. Sekolah tinggi Theologi Injili Philadelphia.

Salam, Burhanuddin. 2000. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.

Surajiyo. 2013. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Filsafat. Bandung: PT.Refika Aditama.

Be Sociable, Share!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*