DEFENISI DAN POSISI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN DALAM BINGKAI FILSAFAT

Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie, filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

Sehubungan dengan pendapat tersebut bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru.
Filsafat ilmu berkembang dari epistomologi (Filsafat Pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Semua ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu. Manusia mempunyai perasaan, pikiran, pengalaman, panca indera, intuisi, dan mampu menangkap gejala alam lalu mengabstrasikannya dalam bentuk ketahuan atau pengetahuan misalnya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah dan filsafat. Apa yang diperoleh dalam proses mengetahui itu dilakukan tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya, maka ini dikategorikan dalam ketahuan atau pengetahuan, dalam bahasa Inggris disebut knowledge. Ilmu atau science ialah pengetahuan yang dipeoleh melalui metode ilmiah, yaitu suatu cara yang menggunakan syarat-syarat tertetu, melalui serangkaian langkah yang dilakukan dengan penuh disiplin.
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah, dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen, yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut, filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F. Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel Kant yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu dikatakan bahwa filsafat adalah sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).
Karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu:

  • Landasan ontologis, yaitu objek apa yang telah ditelaah ilmu, wujudnya, hubungan dengan daya tangkap manusia (berfikir, merasa, mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
  • Landasan Epitemologis, yaitu bagaimana proses ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu, prosedurnya, hal apa yang perlu diperhatikan agar memperoleh pengetahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran iu sendiri, kriterianya, cara/teknik/metode yang dapat membantu dalam mendapatkan pengetahuan berupa ilmu.
  • Landasan Aksiologis, yaitu untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan, kaitannya dengan kaidah – kaidah moral, kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma – norma moral dan profesional.

Semua pengetahuan, ilmu atau seni pada dasarnya mempunyai ketiga landasan itu. Yang berbeda adalah materi perwujudannya, serta sejauh mana landasan dari ketiga aspek itu dilaksanakan dan dikembangkan, dan dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. Karena itu juga sering digunakan istilah disiplin (ilmu). Ketiga landasan keilmuan tadi digunakan untuk membedakan berbagai jenis ilmu dan pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. Dengan mengetahui ciri – ciri setiap pengetahuan secara benar, dapat memanfaatkan kegunaan secara maksimal, dan tidak salah menggunakannya, misalnya ilmu dikacaukan dengan seni, atau ilmu dikonfrontasikan dengan agama.

 Dengan memahami hakekat ilmu itu, dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan – kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman, bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.

Referensi:

  1. Suriasumantri, Y.S. 1996. “Filsafat Ilmu, Suatu Pengantar Populer”. Penerbit Sinar Harapan, Jakarta.
  2. Fatima, F.,. 2002. “Filsafat Ilmu sebagai Landasan Ilmu Pengetahuan”. Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana / S3 – Program Studi DAS, Institut Pertanian Bogor
  3. Rumate, F.A. 1986. “Kajian Pustaka Farmasi”. Lembaga Penerbitan Unhas, Ujung Pandang
Be Sociable, Share!