Kausalitas dan Tapal Batas Ilmu – Kuliah Filsafat

Saat ini kita akan melihat dengan lebih dekat salah satu persoalan mendasar dalam filsafat ilmu: keandalan induksi sebagai alat pemerolehan pengetahuan. Namun pertama-tama, mari kita arahkan perhatian kita kepada pertanyaan yang perlu kalian pikirkan selama beberapa pekan mendatang, walau ini tidak langsung berkaitan dengan filsafat ilmu. Pertanyaannya, yang dikutip oleh Kierkegaard (dalam CUP 97) dari Lessing (1729-1781), adalah: If God had all truth in his right hand and the lifelong search for truth in his left, which hand would you choose? (Jika Tuhan meletakkan seluruh kebenaran di tangan kanan-Nya dan pencarian kebenaran sepanjang hayat di tangan kiri-Nya, tangan mana yang akan anda pilih?)

Dalam kuliah terdahulu, kira-kira pada waktu itu saya pikir kalian akan melupakan permintaan saya agar kalian merenungkan pertanyaan sulit ini; saya akan mengetengahkan beberapa saran tentang bagaimana mestinya tanggapan kita yang saya yakini.

Ingatkah kalian akan bahasan kita di Kuliah 11 tentang metode argumen yang analitik dan sintetik? Pada saat itu kita membandingkan perbedaan antara deduksi (metode yang berawal dengan dua premis atau lebih dan menarik simpulannya yang niscaya) dan induksi (metode yang berawal dengan penghimpunan bukti dari observasi dan dari sini menggeneralisasikannya untuk membentuk simpulan yang bolehjadi). Ada banyak ilmuwan, sejak kelahiran ilmu hingga sekarang ini, yang berasumsi bahwa tugas mereka mensyaratkan observasi yang cermat lebih dari argumentasi yang ketat, sehingga cara yang tepat untuk berilmu adalah berjalan di jalur induksi. Masalah yang terangkat adalah bahwa para ilmuwan hampir selalu memandang tugas mereka sebagai pencarian fakta, dan mereka biasanya menganggap bahwa begitu “fakta” diperagakan, konon hal itu pasti benar; padahal, seperti yang kita lihat di Kuliah 11, induksi sendirian tidak bisa memberi pengetahuan yang sepasti itu, karena sedikit-banyak selalu bergantung pada dugaan. Pemecahan masalah ini merupakan hal terpenting bagi filsafat ilmu karena tampaknya mempersoalkan salah satu keyakinan kita yang paling mendasar mengenai pengetahuan ilmiah: bahwa fakta-fakta ilmiah adalah andal dan bisa dipercaya, karena para ilmuwan telah membuktikan bahwa [fakta-fakta] itu pasti benar.

Bagi kebanyakan ilmuwan yang secara filosofis memikirkan “problem induksi” yang mereka hadapi, solusinya adalah asumsi bahwa fenomena yang mereka amati itu entah-bagaimana terikat bersamaan melalui hubungan yang niscaya. Ini berarti pentingnya fakta-fakta ilmiah tidak berasal dari struktur logis metode ilmiah, tetapi dari suatu hukum di dalam fenomena itu sendiri. Adapun hukum alamiah yang paling dasar, yang mengatur semua hukum lain yang lebih spesifik mengenai bagaimana fenomena berinteraksi, adalah bahwa efek apa pun yang kita amati di alam itu niscaya ditentukan oleh suatu sebab yang mendahuluinya. Hal penting yang harus dipahami tentang solusi ini adalah bahwa penggunaan hukum sebab-akibat-niscaya itu merupakan asumsi filosofis, bukan sesuatu yang didasarkan pada bukti ilmiah apa pun. Bahkan, kita bisa menyebutnya “mitos” yang melandasi kebanyakan ilmu modern. Di abad keduapuluh ada sebagian ilmuwan, kebanyakan di antara mereka ialah fisikawan, yang menyatakan menolak mitos ini, atas dasar bahwa pada tingkat sub-atomik peristiwa-peristiwa “terjadi begitu saja”: jalur elektron, misalnya, diyakini acak sepenuhnya, dan dengan demikian tak bisa diprediksi pada suatu titik waktu tertentu, sehingga hanya “probabilitas” jalur yang ada itu yang bisa diketahui lebih dahulu. Akan tetapi, para ilmuwan lain yakin bahwa penjelasan semacam itu, di samping sebagai cara penghitungan pergerakan partikel-partikel sub-atomik yang misterius, merupakan pengakuan belaka bahwa para fisikawan telah sampai pada tujuan ilmu mereka. Memang, seolah-olah mereka “membenturkan kepala mereka” pada tapal batas terluar ilmu itu sendiri.

Jika para fisikawan pada kenyataanya telah mencapai tapal batas alam fisis, maka asumsi bahwa peristiwa-peristiwa sub-atomik tidak bersebab itu sama mitologisnya dengan asumsi yang lebih tradisional bahwa semua peristiwa memiliki sebab. Dalam hal ini para ilmuwan mesti mengakui bahwa perdebatan tentang asumsi mana yang berfungsi sebagai mitos yang lebih baik untuk membangun ilmu itu terutama merupakan perdebatan filosofis, yang tak terjawab oleh observasi ilmiah melulu. Secara demikian, sekarang saya hendak memperkenalkan kepada kalian dua cara penanganan filsuf-filsuf terhadap persoalan tentang hubungan-niscaya yang acapkali diyakini memberi keandalan kepada pengetahuan induktif. Salah satunya datang dari keragu-raguan yang diangkat oleh David Hume (1711-1776), dan yang lain datang dari upaya Kant yang berpengaruh untuk membuktikan kesalahan pandangan Hume.

Hume ialah filsuf Skotlandia yang sepenuhnya membela metode filsofis yang disebut “skeptisisme”. Para skpetis mempersoalkan keandalan pengetahuan kita (di bidang ilmu, moralitas, estetika, atau segala bidang lain yang di dalamnya orang-orang mengklaim kepememilikan pengetahuan), biasanya dengan menunjukkan bahwa pondasi (atau akar) pengetahuan itu tidak memadai atau tidak ada. Hume mempersoalkan banyak jenis pengetahuan, membela alternatif skeptisnya dengan beberapa argumen yang persuasif. Landasan semua argumennya adalah asumsi bahwa kebenaran bisa dicapai hanya melalui dua cara yang sah (bandingkan Gambar IV.4): melalui penalaran matematis (yakni deduksi, yang menghasilkan sesuatu yang kemudian oleh Kant disebut pengetahuan apriori analitik) dan melalui observasi empiris (yakni induksi, yang menghasilkan pengetahuan aposteriori sintetik). Dengan menggunakan asumsi ini, yang kadang-kadang disebut “garpu Hume”, ia berupaya menemukan dan membuang segala klaim pengetahuan yang tidak bersandar pada gagasan (pikiran) yang didasarkan pada logika atau kesan (perasaan) yang didasarkan pada indera. Dengan demikian, bukunya, An Enquiry Concerning Human Understanding (1748), menyimpulkan:

When we run over libraries, persuaded of these principles, what havoc must we make? If we take in our hand any volume–of divinity or school metaphysics, for instance–let us ask, Does it contain any abstract reasoning concerning quantity or number? No. Does it contain any experimental reasoning concerning matter of fact and existence? No. Commit it then to the flames, for it can contain nothing but sophistry and illusion. (EHU §XII, Part III)

(Kala kita kunjungi perpustakaan, terbujuk akan prinsip-prinsip ini, apa yang harus kita perbuat? Bila kita ambil dengan tangan kita buku apa saja—tentang metafisika haluan atau ilahi, misalnya—mari kita bertanya, Apakah itu mengandung penalaran abstrak mengenai kuantitas atau bilangan? Tidak. Apakah itu mengandung penalaran eksperimental mengenai materi fakta dan keberadaan? Tidak. Maka buanglah [buku] itu ke nyala api, karena tidak berisi apa-apa selain penyesatan dan khayalan.) (EHU §XII, Bagian III)

Ketika sampai pada pengetahuan ilmiah, Hume menggunakan “garpu” ini tidak untuk menyangkal kesahihan semua pengetahuan sama sekali, tetapi untuk menyatakan bahwa kelirulah perkiraan bahwa pengetahuan semacam itu memberi kita pintu masuk menuju kebenaran-niscaya. Kita tidak bisa mengamati hukum semacam itu, dan kita tidak bisa membuktikannya dengan penalaran deduktif; jadi, itu pasti tidak benar! Ia mengungkapkan argumennya dengan beragam cara. Umpamanya, ketika membahas kemungkinan bahwa kehendak manusia bisa memberi kita pintu masuk ke hukum semacam itu, ia bernalar:

Why has the will an influence over the tongue and fingers, not over the heart and liver? This question would never embarrass us, were we conscious of a power in the former case, not in the latter. We should then perceive, independent of experience, why the authority of will over the organs of the body is circumscribed within such particular limits. Being in that case fully acquainted with the power or force … we should also know, why its influence reaches precisely to such boundaries, and no farther. (EHU §VII, Part I, my italics)

(Mengapa kehendak itu mempunyai pengaruh pada mulut dan jari, bukan pada jantung dan hati? Pertanyaan ini tak akan membingungkan kita, bila kita sadar akan kekuatan pada kasus terdahulu, tidak pada yang terkemudian. Maka kita harus mencerap, bebas dari pengalaman, mengapa wewenang kehendak pada organ tubuh dibatasi di dalam batas-batas khusus semacam itu. Dalam kasus yang sepenuhnya terpahami dengan kekuasaan atau kekuatan … kita harus tahu pula, mengapa pengaruhnya menjangkau tapal batas semacam itu dengan tepat, tidak lebih.) (EHU §VII, Bagian I, pemiringan huruf [merupakan tambahan] dari saya)

Di sini Hume mengakui bahwa pencarian hubungan-niscaya adalah pencarian tapal batas, di luar pengalaman awam, yang akan memberi kita kesadaran akan mengapa hal-hal terhubung sedemikian adanya. Namun kemudian ia menolak kemungkinan semacam itu, atas dasar berikut ini:

… consciousness never deceives. Consequently, neither in the one case nor in the other are we ever conscious of any power. We learn the influence of our will from experience alone. And experience only teaches us, how one event constantly follows another; without instructing us in the secret connection, which binds them together, and renders them inseparable.

(… kesadaran tak pernah mengecoh. Akibatnya, dalam hal apa pun tak pernah kita sadar akan kekuasaan apa pun. Kita mempelajari pengaruh kehendak kita dari pengalaman saja. Adapun pengalaman hanya mengajar kita, bagaimana suatu peristiwa senantiasa mengikuti yang lain; tanpa menyuruh kita dengan hubungan rahasia, yang mengikatnya bersama-sama, dan menyebabkan [peristiwa-peristiwa] itu tak terpisahkan.)

Argumen Hume di sini adalah bahwa untuk memahami alasan bekerjanya kehendak manusia sebagaimana adanya, kita harus sadar akan suatu daya atau kekuasaan yang melandasi dan menentukan pengalaman kita. Namun pada faktanya kita tidak sadar akan apa-apa selain pengalaman kita sendiri; kita bahkan tak pernah memiliki kilasan suatu daya yang tersembunyi semacam itu. Kita sampai pada keyakinan akan ide-ide semacam itu melalui penyalinan kesan-kesan dari indera kita dan “pengasosiasian” ide-ide yang dihasilkan satu sama lain. Salah satu contoh sederhananya adalah bahwa kita bisa membangun ide khayalan berupa “gunung emas” melalui penyalinan kesan-kesan absah yang kita miliki tentang emas dan gunung (EHU §II). Masalahnya adalah bahwa sebagian dari keyakinan kita yang paling terpercaya tampaknya berlandasan lemah (§VII, Bagian II):

.. upon the whole, there appears not, throughout all nature, any one instance of [necessary] connection which is conceivable by us. All events seem entirely loose and separate. One event follows another; but we never can observe any tie between them. They seem conjoined; but never connected. And as we can have no idea of anything which never appeared to our outward sense or inward sentiment, the necessary conclusion seems to be that we have no idea of connection or power at all, and that these words are absolutely without any meaning, when employed either in philosophical reasonings or common life.

(… pada keseluruhannya, semua sifatnya keseluruhannya, tampaknya tiada satu pun contoh hubungan[-niscaya] yang tertangkap oleh pikiran kita. Semua peristiwa tampaknya lepas dan terpisah sama sekali. Sebuah peristiwa mengikuti peristiwa lainnya; namun kita tak pernah bisa mengamati ikatan apa pun antara keduanya. Keduanya tampaknya tergabung; namun tak pernah terhubung. Dan sebagaimana kita tak bisa berpandangan tentang sesuatu yang tak pernah tampak pada indera-luar kita atau perasaan-dalam kita, simpulan niscayanya tampaknya adalah bahwa kita tak punya ide tentang hubungan atau daya sama sekali, dan bahwa kata-kata tersebut pasti tanpa makna, bila diterapkan pada penalaran filosofis atau pun pada kehidupan biasa.)

Jika ide hubungan-niscaya sungguh-sungguh “tanpa makna”, maka hal ini tampaknya merupakan masalah yang tak teratasi bagi yang berpandangan bahwa untuk memantapkan fakta-fakta ilmiah metode induktif memadai. Cara pengikisan pondasi hal-hal yang sebelumnya dianggap pengetahuan ini merupakan metode skeptis yang khas dalam filsafat.

Skeptisisme Hume mengenai pandangan umum bahwa ada hubungan-niscaya antara sebab dan akibat mengangkat secara tersirat dua tantangan, yang satu lebih tertuju pada ilmuwan, dan yang lain lebih tertuju pada filsuf. Kalau Hume benar, idenya itu menantang ilmuwan untuk memilih antara dua alternatif: mendapatkan metode ilmiah yang lebih cocok daripada induksi atau, kalau tidak, menghentikan gagasan bahwa ilmu bisa mencapai tujuan kepastian. Bahwa pilihan ini disiratkan oleh skeptisisme Hume mestinya cukup jelas, terutama bila kita lihat kembali Gambar IV.2b dengan mempertimbangkan argumen Hume sebagai berikut:

Bukti                Bukti

 

celah

ketidak-             ide hubungan-niscaya

pastian                 Simpulan Pasti

Gambar VII.5: Ketidakpastian Pengetahuan Induktif

Tentu saja, para filsuf-ilmu lebih sering menanggapi tantangan ini daripada para ilmuwan. Salah satu tanggapan menyiratkan bahwa Hume itu benar dalam menolak kepastian pengetahuan induktif, tetapi mengklaim bahwa pada faktanya, metode yang diikuti oleh ilmuwan terutama bukan induktif melainkan deduktif. Karl Popper, misalnya, mengemukakan bahwa pada aktualnya ilmuwan tidak berawal dengan observasi telanjang, tetapi dengan hipotesis yang berfungsi seperti premis deduksi. Ilmuwan mengasumsikan hipotesis ini, lalu mengujinya dengan mencoba “membuktikan kesalahan”-nya melalui berbagai eksperimen. Induksi saja takkan memungkinkan ilmuwan untuk mencapai simpulan faktual; namun deduksi dan induksi bersama-sama mampu melakukannya. Salah satu tangggapan lainnya sepakat dengan Hume saja, sehingga para ilmuwan tidak perlu memandang tugas mereka sebagai pencarian kepastian. Umpamanya, Paul Fayerabend mengemukakan bahwa, daripada mencari sebuah teori ilmiah yang sempurna, para filsuf dam ilmuwan lebih baik mendorong pengembangbiakan teori: semakin berbeda teori-teori ilmiah, semakin baik teoeri-teori itu—kendati tampaknya berlawanan satu sama lain. Filsuf-filsuf telah berupaya mengabsahkan ilmu dengan begitu banyak cara lain sehingga keterangan yang lebih penuh ada di luar ruang lingkup matakuliah ini.

Tantangan filosofis yang lebih keras yang timbul dari skeptisisme Hume adalah mencari jalan untuk membela induksi dengan satu dari dua cara: [1] mengambil prinsip yang bukan hubungan-niscaya atau [2} menyerang argumen Hume dengan lebih terarah dan memperagakan bahwa bagaimanapun, ide hubungan-niscaya itu maknawi. Hume sendiri pada aktualnya memburu sesuatu yang menyerupai alternatif pertama. Ia mengakui bahwa suatu penjelasan harus diberikan terhadap rasa pengharapan kita bahwa hal-hal akan terjadi di masa mendatang seperti yang terjadi pada masa lampau. Secara demikian, ia mengemukakan bahwa perasaan ini, yang tampaknya menutup “celah” antara bukti dan simpulan dengan argumen induktif (lihat Gambar VII.5), pada aktualnya tidak lain merupakan hasil dari “kelaziman” atau “kebiasaan”:

But there is nothing in a number of instances, different from every single instance, which is supposed to be exactly similar; except only, that after a repetition of similar instances, the mind is carried by habit, upon the appearance of one event, to expect its usual attendant, and to believe that it will exist. This connection, therefore, which we feel in the mind, this customary transition of the imagination from one object to its usual attendant, is the sentiment or impression from which we form the idea of power or necessary connection. Nothing farther is the case. Contemplate the subject on all sides; you will never find any other origin of that idea. (EHU §VII, Part II)

(Namun di sejumlah contoh yang dikira sama persis, berbeda dengan setiap contoh secara sendiri-sendiri, tiada sesuatu selain bahwa selepas pengulangan contoh serupa pada tampilnya sebuah peristiwa, benak itu hanya terbawa oleh kebiasaan untuk menduga penyerta-lazimnya dan untuk meyakini bahwa [penyerta] ini akan ada. Karena itu, hubungan transisi imajinasi [secara] tradisional dari satu obyek ke penyerta-lazimnya yang kita rasakan di benak ini adalah sentimen atau kesan yang merupakan pangkal pembentukan ide kita tentang daya atau hubungan-niscaya. Tiada yang lebih daripada hal itu. Renungkanlah pokok-pembicaraan ini pada semua segi; takkan anda dapati sama sekali asal-usul ide tersebut.) (EHU §VII, Bagian II)

Dengan kata lain, bilamana kita alami obyek-obyek dengan cara yang pasti, kita bayangkan bahwa cara ini niscaya, dan sehingga kita duga mengalaminya lagi dengan cara yang sama. Kita menduga, dan bahkan merasa “pasti” bahwa esok matahari akan terbit di timur, kendati tiada landasan faktual sama sekali bagi kepastian nyata, tetapi hanya bagi penimbangan kemungkinan berdasarkan kebiasaan yang kita kembangkan dari pengalaman masa lalu.

Kita bisa membela jawaban Hume terhadap tantangannya sendiri dengan mencatat bahwa pada faktanya, beberapa orang tidak menduga matahari terbit di timur! Umpamanya, di kutub utara dan selatan ada waktu-waktu tertentu setiap tahun manakala matahari tak pernah terbit atau tak pernah tenggelam. Contohnya, sebetulnya saya lahir di Alaska barat-laut pada dini hari suatu musim panas. Ayah saya mengatakan bahwa ia berjalan ke rumah dari rumah sakit pada pukul 2 pagi itu, dengan menyaksikan matahari tenggelam di utara. Beberapa jam kemudian matahari itu terbit lagi, agak ke timur, tetapi masih di utara terutama. Jadi, contoh khas matahari yang terbit di timur juga melukiskan bahwa yang tampaknya merupakan simpulan yang masuk akal (“Matahari selalu terbit di timur”) pada aktualnya bisa beralih menjadi didasarkan pada kebiasaan kita dalam memandang alam dari perspektif pengalaman masa lalu kita yang terbatas. Baru tatkala kita dikejutkan oleh penemuan pengecualian yang tak terduga, kita menyadari pengaruh kebiasaan kita pada hal-hal yang kita yakini kebenarannya.

Akan tetapi, Kant amat kecewa dengan cara penjelasan Hume tentang perasaan kita bahwa fenomena-fenomena saling berkaitan dengan cara yang niscaya. Karena itu, ia mengambil jalan kedua dalam menanggapi tantangan tersebut. Kant sepakat dengan Hume mengenai pentingnya pengakuan hubungan-niscaya sebagai tapal batas antara yang bisa dan yang tidak bisa diketahui oleh ilmu; namun ia menolak klaim Hume bahwa semua pengetahuan harus salah satu dari matematis dan observasional. Menurut Kant, tipe pengetahuan ketiga, yang disebut “transendental”, adalah sintetik dan sekaligus apriori—yaitu diungkap dengan proposisi yang niscaya benar, tetapi keniscayaannya ini tidak hanya berasal dari logika (lihat Kuliah 11). Alih-alih, tipe ini merupakan tipe khas pengetahuan filosofis. Siapa saja yang menerima garpu Hume dalam pengertiannya yang paling terbatas akan mendapati bahwa [garpu] tersebut akhirnya mengeluarkan filsafat itu sendiri dari alam pengetahuan yang laik diperhatikan! Namun bila kita akui bahwa garpu Hume berfungsi sebagai pondasi mitologis bagi sistemnya, kita akan bebas untuk menggantinya dengan mitos alternatif yang lebih tepat, seperti mitos “Copernican” Kant, bahwa benak itu menimpakan kondisi apriori sintetik tertentu pada obyek apa pun dalam proses menuju pengetahuan tentang obyek tersebut.

Kant menanggapi skeptisisme Hume dengan beragam cara; namun tanggapannya yang paling berpengaruh muncul dalam teorinya tentang “prinsip-prinsip pemahaman murni”. Ia mengemukakan, prinsip-prinsip itu eksis di benak, namun menentukan corak pengalaman kita sebagaimana adanya. Salah satu prinsip yang dipertahankan oleh Kant dengan cara ini adalah sama dengan yang telah ditolak oleh Hume lantaran perasan belaka, yang didasarkan pada cara lazim penafsiran kita terhadap pengalaman masa lalu kita: ide hubungan-niscaya. Kant membela prinsip ini pada salah satu seksi dari Kritik pertamanya yang berjudul “Second Analogy”, dengan menyebutnya “prinsip rentetan waktu, sesuai dengan hukum kausalitas” (CPR 218). Prinsip ini menyatakan: “Semua perubahan berlangsung seirama dengan hukum hubungan sebab-akibat.” Ia mengetengahkan serangkaian argumen rumit yang saling berkaitan dalam mempertahankan prinsip ini—terlalu rumit bagi kita untuk diperiksa di sini. Namun demikian, kita bisa mendapatkan pandangan umum tentang bagaimana ia berargumen dengan mengutip sebuah paragraf dan memeriksanya dengan agak lebih rinci.

Kant dan Hume keduanya setuju bahwa kita mempunyai pengalaman, tetapi mereka tidak sepakat atas siratan pengalaman subyektif kita mengenai alam obyektif. Hume mengemukakan bahwa pengalaman subyektif kita cuma “bundel persepsi”, yang sedikit atau tidak menyiratkan kenyataan obyektif. Adapun Kant mengemukakan bahwa “kita harus mengambil rentetan subyektif penangkapan dari rentetan obyektif penampakan”; kalau tidak, mustahil dijelaskan mengapa kita mencerap atau “menangkap” serangkaian peristiwa dalam urutan tertentu atau dalam sekelompok obyek yang berbeda satu sama lain (CPR 221). Dengan kata lain, pengalaman subyektif kita dimungkinkan hanya [jika berdasar] pada asumsi bahwa [pengalaman subyektif] itu “turun” ke suatu kenyataan obyektif. Dengan pikiran tersebut, Kant menyusun argumen berikut ini:

If, then, we experience that something happens, we in so doing always presuppose that something precedes it, on which it follows according to a rule. Otherwise I should not say of the object that it follows. For mere succession in my apprehension [as in Hume’s theory of “habit”], if there be no rule determining the succession in relation to something that precedes, does not justify me in assuming any succession in the object. I render my subjective synthesis of apprehension objective only by reference to a rule, in accordance with which the appearances in their succession, that is, as they happen, are determined by the preceding state. The experience of an event [i.e., of anything as happening] is itself possible only on this assumption. (223)

(Maka, jika kita alami bahwa sesuatu terjadi, kita dalam melakukannya selalu memprakirakan bahwa sesuatu mendahuluinya, yang diikuti olehnya menurut suatu aturan. Kalau tidak, saya tidak bisa menebak obyek yang diikuti olehnya. [Ini] karena jika tiada aturan yang menentukan rentetan itu sehubungan dengan sesuatu yang mendahuluinya, [maka] rentetan belaka yang saya tangkap [sebagaimana dalam teori Hume tentang “kebiasaan”] tidak membuktikan kebenaran rentetan apa pun yang saya asumsikan di obyek tersebut. Saya hanya mengobyektifkan sintesis pemahaman subyektif saya dengan mengacu pada suatu aturan yang menyesuaikan rentetan penampakan-penampakan, sebagaimana terjadinya, menurut keadaan pendahulu. Pengalaman suatu peristiwa [yaitu terjadinya sesuatu] dimungkinkan hanya [jika berdasar] pada asumsi tersebut.) (223)

Jika argumen Kant itu benar, maka prinsip bahwa ada hubungan-niscaya antara sebab dan akibat pasti benar, meskipun kita tidak bisa menggunakan observasi atau pun penalaran matematis untuk membuktikannya.

Tipe argumen itu kemudian terkenal sebagai “argumen transendental”. Bentuk umum argumen semacam itu ialah:

Supaya terjadi pengalaman, p pasti benar.

Saya, sekurang-kurangnya, memiliki pengalaman.

Oleh sebab itu, p pasti benar.

Hume takkan menyangkal premis kedua; jadi, satu-satunya tangkisannya adalah premis pertama. Adakah sesuatu yang pada kenyataannya pasti benar supaya, bagi pengalaman kita, dimungkinkan sepenuhnya? Kalau begitu, maka kebenaran-kebenaran itu, secara bersama-sama, menetapkan garis tapal batas antara yang bisa dan yang tidak bisa diketahui. Bolehjadikah, misalnya, membayangkan sejenis pengalaman yang tidak menghajatkan kita untuk memprakirakan bahwa bagaimanapun kita ditentukan oleh sesuatu yang terjadi pada suatu waktu di masa lalu? Kant yakin bahwa dalam kasus semacam ini, klaim bahwa kita memiliki pengalaman apa pun tidak akan dibenarkan. “Pengalaman” di sini mengacu pada kesadaran akan “rentetan subyektif” dalam pencerapan kita; dan kalau tiada pula “rentetan obyektif”, maka tiada landasan untuk menangkap rentetan subyektif kita. Dengan kata lain, mendalihkan “kebiasaan” itu tidak relevan, karena tanpa rentetan obyektif sebagai basis bagi “kebiasaan” kita, kita juga tidak mungkin sadar akan kebiasaan-kebiasaan itu.

Sebagian dari kalian barangkali agak bingung pada saat ini. Itu tidak mengejutkan, lantaran argumen-argumen yang kita ulas tersebut tergolong usulan yang paling sulit dari filsuf-filsuf. Para filsuf profesional yang menelaah Hume dan Kant sepanjang hayat mereka masih berdebat tentang bagaimanakah menafsirkan pandangan mereka dan yang manakah yang memberi paparan yang lebih baik tentang bagaimana sebenarnya dunia ini. Jadi, kita tak usah berharap untuk menempatkan pertanyaan tersebut secara definitif pada matakuliah pengantar! Namun bagaimanapun, dengan harapan menjernihkan hal-hal yang meliputi pandangan masing-masing dan, barangkali pada saat yang sama, membantu anda membulatkan tekad anda mengenai manakah yang lebih dekat dengan kebenaran, saya hendak melakukan sedikit “eksperimen-pikiran”.

Bayangkanlah bahwa anda baru saja merampungkan semua kuliah anda seharian. Anggap saja anda tinggal di Shatin, seperti saya; maka, anda berjalan kaki menuju halte bus terdekat dan menunggu bus di sana. Sehabis beberapa menit saja, bus yang biasanya anda tumpangi tiba. Bus itu berpenumpang penuh; namun sopirnya, orang ramah yang telah anda kenal, menghentikan bus untuk memungkinkan anda naik. Kendati satu-satunya tempat bagi anda adalah berdiri dengan kikuk di samping si sopir, anda begitu mencintai filsafat sehingga anda segera membuka buku yang sekarang ini anda baca dari daftar Bacaan Anjuran, dan mulai membaca. Lalulintas tidak terlalu tersendat-sendat, sehingga sesudah satu atau dua menit saja bus itu memasuki terowongan Lion Rock Tunnel, pada jalur menuju Shatin. Anda hampir tidak memperhatikan hal ini, karena begitu asyik dalam berfilsafat. Lalu tiba-tiba anda merasa bus itu berhenti. Mula-mula anda terus membaca saja, dengan menganggap bahwa pasti ada kemacetan di lalulintas terowongan tersebut. Namun sesudah beberapa menit, anda mulai penasaran mengapa bus itu masih belum beranjak. Lantas anda berpaling dari buku anda untuk melihat kalau-kalau anda bisa mengetahui penyebab penangguhan. Anehnya, tidak ada kendaraan di depan bus; dan sopir bus itu masih duduk seperti sediakala, dengan tangannya di atas setir kemudi dan kakinya di atas pedal, seakan-akan ia masih mengemudi!

Apa yang akan anda lakukan dalam kejadian semacam itu? Dugaan saya adalah bahwa, dengan adanya penangguhan yang cukup lama, akhirnya anda akan meminta sopir bus untuk menjelaskan mengapa ia menghentikan bus. Nah, mari kita bayangkan bahwa ia menjawab anda dengan mengatakan “Saya tidak menghentikan bus” (atau ungkapan serupa dalam bahasa Kanton). Barangkali anda akan menanggapinya dengan mengatakan “Kalau begitu, lebih baik anda mencari bantuan, karena bus ini pasti mengalami kerusakan mesin.” Namun sopir itu menukas: “Tidak, mesinnya berjalan dengan baik. Dengarlah!” Dengan cukup yakin, anda kemudian memperhatikan bahwa deru suara mesin itu sama biasanya dengan ketika bus melewati terowongan dengan kecepatan normal. Saya rasa anda akan agak kebingungan; namun sesaat kemudian, terutama bila anda akan terlambat untuk menghadiri perjamuan, anda akan kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam: “Lantas, kalau anda tidak menghentikan bus, siapa yang melakukannya? Tuhan? Atau hantu?” Jika sopir itu lalu menjawab: “Tidak. Tentu saja tidak. Berapa kali harus saya katakan kepada anda, tiada yang menghentikan bus”, maka sebagian besar dari kita, saya kira, akan mengatakan, atau sekurang-kurangnya memikirkan, sesuatu seperti: “Lihat, tidak ada orang yang menghentikan bus ini dengan sengaja, tidak ada kerusakan mesin, padahal bus-bus tidak berhenti begitu saja tanpa alasan sama sekali!

Saya penasaran bagaimana tanggapan anda jika sopir bus itu menjawab klaim ini dengan menukas: “Ah! Anda hanya merasakan cara itu karena kebiasaan yang anda kembangkan selama bertahun-tahun tinggal di Hong Kong, mengira bahwa bus-bus tidak berhenti di terowongan berpolusi bila tiada alasan. Pada kenyataannya, bus-bus itu dapat dan memang beberapa kali berhenti tanpa alasan; hanya saja inilah pertama kalinya anda mengalami suatu pengecualian terhadap ekspektasi lazim anda.” Jika kemudian sopir itu berpaling dan duduk kembali dalam posisi mengemudi, seolah-olah tidak ada yang aneh, saya kira sebagian besar dari kita akan mencoba keluar dari bus itu secepat mungkin! Mengapa? Kita semua akan menganggap sopir ini bercanda secara sangat konyol (atau mungkin berbahaya) dengan penumpangnya, atau menganggapnya gila!

Kita semua (bahkan juga para fisikawan yang yakin bahwa tiada sebab di belakang pergerakan partikel-partikel sub-atomik) biasanya mengasumsikan bahwa apa saja yang kita lihat dan alami dalam kehidupan kita sehari-hari disebabkan oleh sesuatu. Keajaiban pun merupakan peristiwa yang disebabkan, karena ini merupakan peristiwa yang diyakini disebabkan oleh Tuhan. Begitu pula, orang-orang yang hidup di dalam suku-suku primitif menganggap secara alamiah bahwa apa saja yang terjadi merupakan kejadian yang disebabkan, barangkali oleh suatu roh atau dewa. Jika kita tidak membuat sejenis asumsi kausal, kita tidak akan mampu berfungsi di masyarakat manusia mana pun. Kalau pandangan Kant benar, kita juga tidak mampu untuk menyadari pengalaman subyektif kita sendiri. Namun perlu dipahami bahwa prinsip Kant itu transendental, sedangkan “kebiasaan” Hume empiris. Itu berarti dua pandangan tersebut bukan niscaya tidak serasi, asalkan kita menolak prasangka sempit tentang garpu Hume. Pada akktualnya Hume benar manakala ia mengatakan tiada jalan untuk mengamati atau menghitung jalan kita menuju suatu pemahaman tentang hubungan-niscaya. Argumen Kant menunjukkan bahwa kekeliruan Hume ialah mengabaikan garis tapal batas transendental antara keduanya, lantaran itulah rumah hubungan-niscaya yang sejati, dan begitu pula pengabsahan terbaik yang bisa ditilik oleh ilmuwan tatkala mempertahankan penggunaan metode induktifnya.

Walau anda tidak teryakinkan oleh argumen-argumen Kant, atau oleh eksperimen-pikiran tadi, untuk mempercayai bahwa prinsip kausalitas, atau hubungan-niscaya, merupakan syarat transendental untuk memungkinkan pengalaman, saya harap anda akan setuju mulai sekarang bahwa pandangan semisal pandangan Hume, sendirian, merongrong kebolehjadian ilmu. Bisa-bisa tiada fakta obyektif bila segala sesuatu bergantung pada kebiasaan subyektif kita sendiri. Saya kira sebagian besar dari kalian bisajadi setuju bahwa kebiasaan belaka belum cukup baik. Ada sesuatu yang mutlak mengenai ide kita tentang hubungan-niscaya antara sebab dan akibat, sesuatu yang tampaknya hampir tak tertanyakan! Kebetulan, fakta bahwa Hume tidak menyetujuinya itu tidak membuktikan bahwa ide tersebut “relatif”; teori Hume bisa tidak benar!

Di sisi lain, jika kita terima argumen Kant dan menganggap segala hal yang terjadi ditentukan oleh sesuatu yang terjadi sebelumnya, muncul masalah baru: Bagaimana kita bisa menjelaskan perasaan kita, manusia, bahwa kita bebas? Jika segala sesuatu di alam ini ditentukan, apakah ini berarti kita harus mencampakkan keyakinan kita kepada kebebasan manusia? Itu akan menimbulkan masalah besar dengan adanya pertalian yang erat antara kebebasan dan kealiman (lihat Kuliah 19). Di sini filsafat ilmu langsung menghadapi salah satu pertanyaan inti pada cabang filsafat terapan yang akan kita panjat di kuliah mendatang, cabang filsafat moral. Di situ akan kita dapati sejauh mana pencarian kita terhadap kealiman bisa menyebabkan kita menerima determinisme ilmu dan sekaligus kebebasan tindakan moral.

Be Sociable, Share!