Ilmu dan Anatomi Kealiman – Kuliah Filsafat

Salah satu pelajaran terpenting yang kita pelajari dari bahasan kita di kuliah yang lalu adalah bahwa filsafat, sebagaimana belajar terbang, terutama merupakan keterampilan. Saya ingin memulai kuliah ini dengan menekankan gagasan tersebut, khususnya lantaran delapanbelas kuliah pertama kita terutama berhadapan dengan aspek teoretis pohon filsafat. Jika kajian anda tentang filsafat sejauh ini memberi anda kesan bahwa filsafat itu lebih berupa seperangkat teori atau doktrin daripada aktivitas, maka silakan melupakan kesan itu sekarang juga! Filsafat itu mula-mula dan terutama mengenai sesuatu yang dilakukan. Adapun belajar berfilsafat, dalam banyak hal, serupa dengan belajar bermain sepakbola atau bertutur bahasa. Ada teori-teori dan metode-metode tertentu yang harus dipelajari di sepanjang jalan ini; namun akhirnya anda tak akan menjadi pemain sepakbola yang baik tanpa melatih keterampilan anda di lapangan, dan anda tak akan mahir dalam suatu bahasa tanpa menjumpai beberapa orang yang berbicara dengan bahasa itu dan bercakap-cakap dengan mereka.

Contoh-contoh tentang permainan dan bahasa tersebut menyiratkan bahwa dua tahap penting untuk mempelajari keterampilan adalah praktek dan peniruan; hal ini berlaku pula pada keterampilan berfilsafat. Inilah alasan mengapa saya mendorong siapa saja yang mengambil matakuliah ini untuk menyisihkan waktu secara teratur untuk merenungkan masalah-masalah filosofis yang diangkat di kuliah-kuliah ini atau terdaftar di subbab “Pertanyaan Perambah” pada setiap akhir pekan, dan kemudian menulis lembar mawas sebagai respon. Lembar mawas merupakan peluang anda untuk berlatih berfilsafat. Namun, kecuali jika anda telah punya bakat berfisafat, praktek belaka tidak cukup untuk menuju kesuksesan. Anda juga perlu seseorang untuk ditiru. Dengan mengingat hal ini, saya harap bahwa karena anda mengikuti (atau membaca) kuliah-kuliah ini, anda lebih menaruh perhatian pada cara berfilsafat saya daripada menghafal “fakta-fakta” mengenai beragam filsuf. Akan tetapi, tepat seperti bahwa ada banyak strategi yang berlainan untuk bermain sepakbola yang baik dan banyak ide yang berlainan mengenai cara terbaik untuk belajar bahasa, ada banyak konsepsi juga yang berbeda-beda tentang cara terbaik untuk berfilsafat, sebagaimana yang telah kita lihat. Inilah alasan mengapa anda juga perlu membaca tulisan-tulisan asli filsuf-filsuf lain (seperti yang disarankan di subbab “Bacaan Anjuran” di akhir setiap pekan). Ketika membaca teks-teks ini, anda jangan hanya belajar tentang isi gagasan filosofisnya, tetapi juga belajar meniru bagaimana filsuf itu berfilsafat. Akhirnya, anda harus mampu berfilsafat ketika anda membaca, dengan secara aktif menerapkan metode yang tepat melalui dialog dengan teks yang sedang anda baca.

Filsafat merupakan keterampilan, namun tidak sama dengan keterampilan lain apa pun. Sesungguhnya, mudah diambil perbandingan yang terlalu jauh antara filsafat dan keterampilan-keterampilan lain. Ini lantaran filsafat pada aktualnya dapat dianggap sebagai keterampilan terdalam atau keterampilan tentang keterampilan. Dengan kata lain, filsafat yang terbaik, sebagai keterampilan pemerolehan gagasan dan penemuan kebenaran di dalamnya, menyediakan pondasi bagi semua keterampilan lain. Inilah alasan sebenarnya mengapa setiap disiplin akademik memiliki “filsafat …” yang melekat padanya. Di samping cabang-cabang pohon filsafat yang diperhatikan di Bagian Tiga ini—filsafat ilmu, filsafat moral, dan filsafat politik—kita dapat mengkaji filsafat agama, filsafat fisika (dan filsafat ilmu spesifik lainnya), filsafat seni (dan filsafat seni spesifik lainnya), filsafat pendidikan—dan seterusnya. Bahwa keterampilan berfilsafat merupakan pondasi semua keterampilan itu tercermin pada penegakan pendidikan kita oleh fakta bahwa orang yang menguasai disiplin akademik tertentu biasanya diberi gelar [Ph.D., yakni] “doktor filsafat”. Walaupun sebagian besar gelar doktoral pada aktualnya tidak mensyaratkan kandidat untuk mengkaji filsafat sebagaimana adanya, nama gelar tersebut benar-benar menyiratkan bahwa si wisudawan telah menguasai pondasi disiplinnya—dan sehingga semestinya, setidak-tidaknya pada prinsipnya, mampu berfilsafat mengenai disiplinnya. Akan tetapi, keterampilan pun yang biasanya tidak ada hubungannya dengan pendidikan perguruan tinggi bisa memiliki “filsafat …”, seperti filsafat bermain-catur, filsafat memasak, filsafat berburu, dan lain-lain, sehingga tentu saja ada filsafat kehidupan, belum lagi filsafat kematian. Kedua topik ini, yang akan dibahas di Pekan XII, mengacu pada terutama keterampilan: yaitu mempelajari cara hidup, atau mempelajari cara mati.

Bagaimana padangan tentang filsafat sebagai keterampilan ideal itu berkaitan dengan mitos dasar matakuliah ini? Dengan kata lain, jika filsafat itu seperti pohon, maka keterampilan berfilsafat akan kita sebut apa? Kita menggambarkan filsuf dengan cara bagaimana? Filsuf-filsuf menggarap filsafat dengan cara yang banyak menyerupai tukang kebun yang menggarap tanaman di taman: tepat seperti tukang kebun yang tidak menciptakan atau bahkan membangun tanaman, tetapi merawat sesuatu yang telah ada (umpamanya dalam bentuk benih), filsuf pun tidak (atau sekurang-kurangnya jangan) memandang tugasnya sebagai menemukan argumen yang dimulai dari nol atau sebagai membangun sistem dengan corak yang sedikit-banyak mekanis, tetapi sebagai merawat kenyataan yang telah ada (umpamanya dalam bentuk gagasan). Dengan mengingat hal ini, mari kita lihat lebih dekat mitos dasar matakuliah ini.

Pohon filsafat yang saya sajikan di matakuliah ini cukup berbeda dengan yang dipaparkan oleh Descartes (lihat Gambar III.1). Pada faktanya, satu-satunya kesamaan dua analogi ini adalah bahwa keduanya mengasosiasikan metafisika dengan akar pohon (lihat Gambar VII.3). Tepat seperti akar pohon yang hampir seluruhnya terbenam di dalam tanah, pokok persoalan metafisika pun hampir seluruhnya tersembunyi dari tatapan keingintahuan benak kognitif kita. Karenanya, pelajaran asasi yang kita petik dari belajar metafisika adalah bahwa, sebagaimana tukang kebun yang akan mudah mematikan pohonnya bila senantiasa mencabut akar pohon itu untuk melihat bagaimana akar-akar tersebut tumbuh, filsuf-filsuf yang menolak untuk mengakui pentingnya kebebalan kita tentang kenyataan hakiki, dan yang justru mengklaim telah menjangkau pengetahuan yang pasti tentang kenyataan hakiki (atau tentang non-eksistensinya), pun akan mudah dengan ceroboh mematikan organisme yang mestinya mereka rawat.

akal

 

ontologi

 

ilmu

 

wawasan

logika

filsuf

ilmu baru?

metafisika

 

tradisi

Gambar VII.3: Pohon Filsafat

Batang dan cabangnya, sebagaimana yang telah kita lihat, bagi kita bukan fisika dan ilmu-ilmu lain, melainkan logika dan ilmu (yang di sini [istilah] “ilmu” diambil dari makna aslinya yang mengacu pada segala “pengetahuan” yang bisa dibuktikan kebenarannya, bukan hanya pada tipe pengetahuan yang terpola pada metode-metode ilmu fisis). Tepat seperti semua cabang pohon yang tumbuh dari batang, semua pengetahuan (yakni sciens) kita bisa diungkapkan dalam kata-kata (yakni logoi). Kita bisa menambahkan bahwa kulit batang pohon itu seperti logika analitik, yang menunjukkan permukaan pelindung cara pikir kita, sedangkan inti pohon itu seperti logika sintetik, yang membawa kita kepada jantung dan kehidupan pikiran itu sendiri.

Walaupun Descartes tidak membawa analogi pohonnya melampaui cabang-cabang, kita akan melihat di Bagian Empat bahwa daun-daun pohon bisa disamakan dengan bidang penyelidikan filsafat yang biasanya dikenal sebagai ontologi (“telaah tentang yang-berada”). Tepat seperti kebanyakan daun-daun pohon yang gugur setiap tahun dan tumbuhlah daun baru di musim semi dalam suatu daur kelahiran, pertumbuhan, kematian, dan kelahiran kembali yang sinambung, fenomena yang akan kita telaah di Bagian Empat pun sering sekejap dan sementara. Sekalipun begitu, sebagaimana daun pohon yang memberinya ciri khas, ciri khas manusia pun ditentukan oleh pengalaman-pengalaman seperti pengalaman keindahan, cinta, keagamaan, dan kematian. Malahan, tepat seperti daun-daun mati yang jatuh ke tanah dan kemudian terurai, dengan tujuan membentuk tanah yang memberi gizi akar-akar pohon, akumulasi generasi pengalaman manusia pun membentuk tradisi yang tidak bisa diabaikan tanpa bahaya, karena inilah yang menjadi landasan pertumbuhan pohon filsafat.

Mari kita ambil mitos pohon filsafat ini selangkah lebih maju, dengan asumsi bahwa kita merawat pohon yang mengandung buah. Jika demikian, apa sifat buah ini? Saya menyarankan kita memandangnya sebagai titik-awal berbagai ilmu. Sejarah memberi tahu kita bahwa sebagian besar disiplin yang kini kita akui sebagai ilmu pernah dianggap sebagai cabang filsafat. Matematika, misalnya, bisa dilacak jejaknya pada filsuf Yunani kuno yang bernama Pitagoras (yang “teorema Pitagoras”-nya barangkali anda pelajari di sekolah). Beraneka-macam ilmu seperti fisika, biologi, psikologi, dan ilmu politik semuanya memiliki asal-usul dalam empirisisme filosofis Aristoteles. Kimia (chemistry) pun berkembang dari disiplin kuasi-filosofis, yakni kimia kuno (alchemy), yang di dalamnya orang-orang yang menyebut diri-sendiri “filsuf” mencoba mencari cara pengubahan berbagai bahan biasa menjadi emas. (Para kimiawan-kuno pun menganggap “arbor philosophicus[i][3] sebagai simbol proses transformasi ini, walaupun versi pohon filsafat ini, sebagaimana yang diperikan oleh Carl Jung (dalam PSA 420; lihat juga Gambar 122, 131, 135, 188, 221, 231), sangat berbeda dengan yang diberlakukan di matakuliah ini.) Sosiologi dan Ilmu Ekonomi juga berawal dengan segi-segi sistem filosofis. Begitu pula ilmu-ilmu lainnya. Mengapa ilmu-ilmu itu sering muncul dengan cara ini? Pohon filsafat menyediakan jawaban yang masuk akal: cabang pohon ini melambangkan ilmu dalam arti khusus, yaitu cinta akan kealiman; di atasnya tumbuh berbagai jenis buah; bila satu buah semacam ini luruh ke tanah, membusuk, dan kemudian berakar, lahirlah ilmu yang spesifik. Kebetulan, inilah yang menjelaskan mengapa usaha untuk membuat filsafat itu sendiri menjadi ilmu lain adalah sangat sia-sia: pohon filsafat tak akan menjadi suatu ilmu karena ia induk semua ilmu! Tragedinya adalah bahwa pohon-pohon yang lebih muda ini, kendati terlindung sebagai pucuk muda yang lemah di bawah bayangan pohon filsafat, sering mengancam untuk mencekik induk mereka ketika mereka mencapai kedewasaan.

Jika pohon-pohon baru yang tumbuh dari buah pohon filsafat adalah ilmu-ilmu spesifik, maka biji yang kita dapati di tengah-tengah setiap buah itu apa? Mungkin biji ini melambangkan gagasan atau wawasan kita. Saya yakin sebagian besar dari kita, kalau tidak kita semua, mempunyai banyak wawasan yang berharga sepanjang hayat kita. Masalahnya adalah bahwa kita biasanya lalai untuk mengakui nilainya ketika biji itu mendatangi kita, sehingga kita menyantap buah manis yang berupa opini, untuk memuaskan nafsu kita, tetapi mencampakkan biji pahitnya, walaupun pada akhirnya biji-biji itu bisa melahirkan pengetahuan. Wawasan harus ditanam, diairi, dan dirawat dengan perhatian kita terus-menerus jika hendak ditumbuhkan menjadi ide yang patut dipertimbangkan oleh orang lain, tidak cuma kita anut sendiri sebagai opini pribadi.

Pembedaan antara pengetahuan dan opini ini perlu dipahami sebelum kita melakukan diskusi tentang ilmu dan cinta akan kealiman. Kant, pada halaman-halaman akhir Critique of Pure Reason, menyarankan cara pembedaan yang menarik perihal pembedaan antara pengetahuan, keyakinan, dan opini. Katanya, untuk mengklaim bahwa kita “mengetahui” sesuatu, kita harus memiliki kepastian obyektif (eksternal) dan sekaligus kepastian subyektif (internal). “Keyakinan” bisa mempunyai tingkat kepastian yang sekuat pengetahuan, namun kepastiannya hanya subyektif; jika saya merasa pasti akan sesuatu, meskipun fakta-fakta eksternal tidak memadai untuk mengemukakan bukti obyektif (yakni bukti yang memaksa orang lain setuju), maka dan hanya maka saya harus mengatakan “Saya yakin …”. Sebaliknya, pada situasi yang di dalamnya saya tidak yakin baik secara obyektif maupun secara subyektif, saya harus mengakui bahwa saya sendiri berpegang pada suatu opini.

Pembedaan Kant tersebut pada aktualnya didasarkan pada dua pertanyaan yang membentuk suatu 2LAR: (1) Apakah secara subyektif kebenaran p pasti? dan (2) Apakah secara obyektif kebenaran p pasti? Kant menjelaskan tiga situasi-bolehjadi yang timbul dari dua pertanyaan itu, tetapi ia tidak menunjukkan kemungkinan keempat. Barangkali ia menganggap sia-sia memikirkan proposisi yang secara obyektif pasti, namun secara subyektif tidak pasti. akan tetapi, saya pikir sebaiknya kita tidak terburu-buru menganggap hal ini sebagai 2LAR yang tidak sempurna. Bagaimana dengan mengabaikan? Tidakkah mengabaikan merupakan keadaan sesuatu yang secara subyektif tidak pasti yang pada lubuknya memiliki suatu jenis kepastian obyektif? Jika demikian, maka kita dapat memetakan empat keadaan kognitif itu pada salib 2LAR, seperti pada Gambar VII.4.

mengetahui

(kepastian subyektif,

kepastian obyektif)

 

mengabaikan                               menyatakan

(ketidakpastian subyektif,                 (ketidakpastian subyektif,

kepastian obyektif)                     ketidakpastian obyektif)

 

meyakini

(kepastian subyektif,

ketidakpastian obyektif)

Gambar VII.4: Empat Keadaan Kognitif

Wawasan tak pernah merupakan opini belaka; wawasan lebih menyerupai tercetusnya sesuatu yang baru secara mendadak, suatu kesadaran akan pengetahuan potensial tentang sesuatu yang sebelumnya kita abaikan sepenuhnya. Dengan demikian, segera seusai kita akui kebebalan kita, filsafat menyeru kita agar memfokuskan perhatian kita menuju pengetahuan dan keyakinan dan menjauhi opini. Sebaliknya, ilmu selalu menuju pengetahuan saja, dalam arti kepastian yang bisa dibuktikan secara obyektif. Ilmuwan menelaah hubungan antara fenomena alamiah tertentu dengan mengamati struktur umumnya, dan upaya untuk menemukan pola-pola yang akhirnya mengarahkan kita ke pemahaman beberapa hukum alam yang dipatuhi oleh fenomena yang dibicarakan. Jika suatu fenomena selalu terlaksana dengan cara tertentu, maka aktivitasnya bisa diprediksi; dan tentu saja, salah satu daya tarik terbesar ilmu adalah bahwa, manakala ilmu benar-benar mencapai tujuan puncaknya yang berupa mapannya pengetahuan yang secara obyektif bisa dibuktikan kebenarannya, ilmu itu memungkinkan kita untuk mengetahui masa depan! Sebaliknya, filsafat ilmu tidak dimaksudkan untuk membangun pasal-pasal pengetahuan empiris yang tertentu, tetapi menelaah sifat dasar keseluruhan asumsi dan metode ilmu. Jadi, filsuf ilmu itu bukan mengetengahkan pertanyaan tentang fenomena tertentu, melainkan mengajukan pertanyaan semacam: Apakah ilmu itu? Metode ilmiah apa yang tepat? Yang menghasilkan keandalan ilmu itu apa? dan Apakah ilmu itu memberi kita pengetahuan tentang kenyataan yang bebas seluruhnya dari benak kita?

Pada matakuliah ini kita tidak akan mampu menyelidiki pertanyaan-pertanyaan ini dengan sangat cermat. Contohnya, kita takkan bisa lebih mendalami pertanyaan terakhir daripada yang kita lakukan di Kuliah 8, yang di situ kita lihat bahwa Kant, sekurang-kurangnya, yakin bahwa semua pengetahuan ilmiah itu bergantung pada “kondisi apriori sintetik” yang ditimpakan oleh benak itu sendiri pada obyek-obyek dengan tujuan agar obyek-obyek itu bisa diketahui. Karena itu, aspek kritisisme metafisika ini berkaitan erat dengan filsafat ilmu. Pada kuliah mendatang kita akan melihat lebih dekat salah satu argumen Kant, mengenai pondasi filosofis keandalan ilmu, yang juga mempunyai implikasi bagi hakikat metode ilmiah yang tepat. Namun untuk sekarang saya hendak menambah sedikit komentar tentang hakikat ilmu itu sendiri.

Terdapat suatu pandangan umum, yang populer terutama di kalangan ilmuwan dan mahasiswa sains, bahwa kebenaran segala hal harus bisa dibuktikan secara ilmiah. Pandangan ini sering disebut “saintisme”. Suatu pandangan serupa, yang disebut “naturalisme”, bahkan memandang lebih jauh lagi, dengan menyatakan bahwa segala hal yang ada itu [bersifat] material, tetap, dan mekanis. Dua pandangan ini sering berjalan seiring, karena penghuni bumi yang “alamiah” sepenuhnya (dalam ertian khusus ini) takkan bisa menemukan kebenaran dengan metode non-ilmiah apa pun. Sebagaimana yang akan kita saksikan di Kuliah 21, para ilmuwan harus mengasumsikan bahwa fenomena yang mereka kaji itu [bersifat] alamiah pada sesuatu yang menyerupai ertian ini, karena kalau tidak, pengetahuan obyektif mengenai hal itu mustahil diperoleh. Akan tetapi, [kalangan] naturalis mengambilnya selangkah lebih dalam dengan mengklaim bahwa tidak ada apa pun di luar alam yang bisa diamati oleh ilmuwan. Bahkan di ilmu-ilmu sosial, yang pengetahuan mapannya sering berupa pengetahuan mengenai opini dan keyakinan orang, kadang-kadang ada kecenderungan untuk menganggap bahwa pengetahuan obyektif ilmuwan itu entah-bagaimana bebas dari segala noda subyektivitas. Akan tetapi, seperti siratan Gambar VII.4, pengetahuan sejati selalu mempunyai unsur subyektif di samping unsur obyektif. Bahkan, gagasan bahwa kita bisa memiliki pengetahuan obyektif murni itu amat menyesatkan, karena keadaan semacam itu pada aktualnya menetapkan kebebalan, bukan pengetahuan! Kebebalan yang menyertai segala pandangan yang memutlakkan pengetahuan obyektif bisa dipandang sebagai, minimal, kebebalan akan sifat mitologis keyakinan subyektif yang membentuk pondasi pokok pandangan-pandangan semacam itu.

Gagasan utama yang ingin saya ajukan mengenai pandangan-pandangan seperti saintisme dan naturalisme adalah bahwa, berlawanan dengan asumsi banyak orang yang menganut pandangan-pandangan semacam itu, keduanya bukan bagian dari ilmu, bukan pula diwajibkan oleh hakikat ilmu; alih-alih, keduanya adalah filsafat ilmu. Saintisme adalah, atau mestinya dianggap sebagai, teori epistemologis, sedangkan naturalisme sebagai teori metafisis. Sekalipun begitu, dalam banyak hal, keduanya lebih merupakan hasil dari prasangka yang berat sebelah, suatu ketidakmampuan untuk melihat segala sesuatu dari lebih dari satu sudut pandang, daripada sebagai pondasi filosofis yang beralasan bagi ilmu. Faktanya adalah bahwa filsuf-ilmu lain mengakui bahwa dunia kita terdiri dari lebih dari sekadar materi yang ditentukan secara mekanis, bahwa ilmu adalah salah satu cara penemuan kebenaran yang sah, dan bahwa pandangan-pandangan tentang ilmu ini menyediakan pondasi yang baik untuk penelitian ilmiah di samping alternatif-alternatif yang lebih cenderung-sempit. Begitu kita sadari bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada hubungannya dengan ilmu itu sendiri, ada banyak kekuatan yang tersingkir dari filsafat, seperti saintisme dan naturalisme.

Perbedaan antara ilmu dan filsafat ilmu itu melukiskan bagaimana disiplin-disiplin filsafat terapan berkaitan dengan jenis kealiman yang dibahas di Bagian Tiga ini. Di sini kita telah sampai pada memandang “kealiman” dalam ertian umum, seperti yang mengacu pada aktivitas yang ditujukan untuk mengetahui bagaimana memutuskan mana yang nyata mana yang tidak; atau mengetahui di mana penempatan tapal batas antara pengetahuan dan kebebalan. Dengan kata lain, mencintai kealiman itu mensyaratkan kita untuk sampai tahu apa yang bisa kita sebut Jalan ilmu, bukan untuk menghimpun fakta ilmiah sebanyak mungkin. Sesungguhnya, gagasan ini oun tersirat dalam salah satu definisi “kealiman”, yang paling umum yaitu “mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan (scientia) kita”.

Salah satu masalah yang timbul adalah bahwa filsafat terapan, yang terkait dengan cinta akan kealiman menurut pemahaman dengan cara tersebut, mungkin dianggap sia-sia oleh sebagian orang. Aduan seperti yang berikut ini, pada faktanya, diangkat oleh sebagian mahasiswa saya terdahulu: “Mengapa kita menelaah ‘filsafat sesuatu’ bila kita bisa menelaah sesuatu itu sendiri?” “Fakta-fakta ilmiah memungkinkan kita untuk menciptakan segala jenis kemajuan teknologi; namun perkembangan teknologi apa di masyarakat kita yang pernah dihasilkan oleh filsafat ilmu?” “Menelaah ‘cara’ misterius ini menghambur-hamburkan waktu, bila kita bisa menggunakan waktu kita yang berharga untuk mengkaji sesuatu yang pada kenyataannya bermanfaat!”

Chuang Tzu, filsuf Cina kuno yang gagasannya kita jumpai sehubungan dengan pembahasan kita tentang logika sintetik, ialah jawara “Jalan” (yang dalam bahasa Cina disebut “Tao” atau “Dao”). Seperti yang mungkin kita duga, ia benar-benar sadar akan tuduhan bahwa penelaahan tentang Jalan ini sia-sia. Pada beberapa kesempatan, tanggapannya adalah menunjukkan bahwa pohon yang kita kira “berguna” mungkin memiliki kehidupan yang singkat. Jika kayunya sangat keras, kita ingin menggunakannya untuk membangun sesuatu. Jika kayunya sangat lunak, kita ingin memakainya untuk memahat sesuatu. Jika kayunya beraroma harum, kita ingin memanfaatkannya untuk membuat hiasan dekoratif. Namun jika pohon itu tidak berguna, kita lebih cenderung membiarkannya. Dari hal ini ia menyimpulkan bahwa kesia-siaan bisa sangat berguna: pohon yang tampaknya “tidak berguna” lebih berkemungkinan untuk hidup lama! Penerapan logika sintetik ini mungkin bukan cara yang paling persuasif untuk membela manfaat pohon filsafat; namun cara ini bukan tanpa kelebihan, karena ini menunjukkan bahwa kita harus meninjau kembali asumsi umum kita mengenai apa yang kita anggap “berguna”.

Menurut Wittgenstein, filsafat berfaedah hanya bagi orang-orang yang terusik dengan sejenis “kram mental” tertentu, dan tugasnya selaku filsuf adalah bertindak sebagai “pemijat” yang harus meredakan kram itu. Karena terutama, kalau bukan hanya, filsuflah yang menderita kram ini, ia memandang tugasnya adalah membantu filsuf-filsuf dalam menghindari kejatuhan yang menuju cara pikir yang sia-sia. Akan tetapi, begitu kita akui bahwa orang awam juga cenderung menerapkan pengetahuan dengan cara yang sia-sia, manfaat menelaah filsafat bisa lebih dihargai sepenuhnya.

Sesungguhnya, ketidakmampuan kita untuk memanfaatkan kealiman dalam pengertian instrumental—umpamanya, seperti pemakaian garpu dan pisau, atau sumpit, untuk makan—itulah yang memungkinkannya untuk berfungsi sebagai pondasi bagi semua yang berguna. Mengetahui belaka tapal batas antara pengetahuan dan kebebalan barangkali tidak memungkinkan kita untuk membangun sejenis roket baru untuk menjelajahi alam semesta dengan lebih cepat, tidak pula menjamin bahwa secara otomatis kita melakukan hal-hal yang benar bila kita berada dalam keadaan yang secara moral sulit, tidak pula memberdayakan kita untuk menciptakan perdamaian antara pemimpin-pemimpin dua bangsa yang berperang. Namun ini akan memungkinkan kita untuk melihat dengan lebih gamblang perbedaan antara penerapan yang penuh makna dan yang kurang bermakna perihal jenis pengetahuan ini dan sebagainya. Karenanya, kita dapat menggunakan pengetahuan filosofis untuk membantu orang-orang yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan agar tidak menggunakan kecakapan teknologis, atau penalaran moral mereka, atau kekuatan politis mereka, dengan cara yang tidak-rasional, destruktif, atau pun yang menghancurkan-diri.

[i][3] “arbor philosophicus” ialah istilah Latin yang berarti “pohon filsafat”.

Be Sociable, Share!