Ionic Liquid (Alternatif Green Solvent)

Pengetahuan tentang sifat kelarutan untuk senyawa target pada bahan alam sangat penting untuk diketahui agar agar proses ekstraksi dan pemisahan berhasil secara maksimal. Karena kelarutan rendah senyawa bahan alam dalam air,  biasanya digunakan pelarut organik seperti alkohol, eter, etil asetat, alkana, kloroalkana dan pelarut organik lainnya. Namun, pemilihan pelarut tersebut dapat dipilih jika telah diketahui senyawa yang diketahui atau telah memiliki pustaka. Apabila informasi tersebut tidak tersedia maka harus mengikuti prinsip “like dissolves like”.

Konsep polaritas dapat diterima secara luas dan dipahami dan didasarkan pada defenisi polaritas yang merupakan jumlah semua interaksi antarmolekul (spesifik dan nonspesifik) antara pelarut dan potensi zat terlarut, interaksi ini menghasilkan reaksi kimia (Reichardt  dan Welton, 2011). Hal ini dapat dianggap baik sebagai fenomena fisika dan kimia yang terdiri Interaksi Coulomb, interaksi dipol-dipol, interaksi ikatan hidrogen, dan interaksi donor-akseptor asam basa. Mengenai polaritas cairan ionik (ILs) tergantung pada sifat dari komponennya, biasanya dalam kisaran dari dipolar non-hydrogen-bond-donation solvents (DMF, DMSO, asetonitril) hingga polar hyd.drogen-bond-donating (alkohol primer, air) (Reichardt, 2005) (Jessop, Jessop, Fu, dan Phan, 2012). Selain kelarutan, faktor lain yang signifikan berpengaruh s seperti titik didih dan titik leleh, kerapatan, viskositas,  dan tegangan permukaan pelarut(Jacquemin, Husson, Padua, dan Majer, 2006). Cairan ionik mrni dapat dianggap sebagai “self-assembly amphiphiles” yang membentuk jaringan H-bonded-polymeric yang menjadi pola struktur umum sebagai fase padat dan cair (Dupont, 2004)(Greaves dan Drummond, 2013).

Selain sifat fisikokimia cairan ionik yang mempengaruhi hasil ekstraksi, beberapa pertimbangan lain mengenai seluruh proses, dampak ekonomi dan lingkungan juga harus dipertimbangkan. Pelarut cairan ionik dapat digunakan karena memilik fleksibilitas dari kombinasi ion untuk menyesuaikan sifat fisikokimia senyawa target, dan bisa dianggap sebagai substituen potensial dari pelarut organik yang sifatnya mudah terbakar, mudah menguap, dan beracun sedangkan pelarut cairan ionik tidak (Chemat dan Vian, 2014).

Cairan ionik bersuhu kamar (RTILs) adalah kandidat yang menjanjikan yang dapat memenuhi persyaratan diatas (Ventura, Silva, Gonçalves, Pereira, Gonçalves dan Coutinho, 2014) yang sepenuhnya terdiri dari ion kation organik stabil dan anion anorganik atau organik, yang berbentuk cairan pada suhu kamar dan memiliki sifat unik, seperti tekanan uap diabaikan, tidak mudah terbakar, stabil pada suhu tinggi, reaktivitas kimia rendah, dan lain-lain(Bogdanov, Iliev, dan Kantlehner, 2009). Karena keunikannya bersama dengan fine-tunable density, viskositas, polaritas, dan miscibility dengan pelarut organik umumnya (Bogdanov, Iliev, dan Kantlehner, 2009)(Bogdanov, Petkova, Hristeva, dan Svinyarov, 2010), yang sangat aplikatif dalam berbagai bidang seperti sintesis (Hallett dan Welton, 2011), Katalisis (Parvulescu dan Hardacre, 2007), elektrokimia (Opallo dan Lesniewski, 2011), kimia analitik (Poole dan Poole, 2011), selain itu, bahan organik mudah terbakar (VOCs) yang berbahaya telah berhasil digantikan oleh RTILs dalam proses pemisahan (ektraksi) baik ekstraksi cair-cair maupun ekstraksi pada-cair (Ho, Zhang, Hantao, dan Anderson, 2013).

Struktur, Nama, dan singkatan yang secara umum digunakan sebagai cation dan anion sebagai pelarut cairan ionik (ILs)

Drawing1

Be Sociable, Share!