SEJARAH PENEMUAN METODE AKTIVITAS PENGHAMBAT ACE SECARA IN VITRO

Metode uji aktivitas pengambat ACE secara in vitro dimulai pada tahun 1954 -1957, ketika Skeeggs, et al., berhasil mengisolasi dan purifikasi enzim yang dapat menghidrolisis decapeptide angiotensin I, kemudian melepaskan vasopressive octapeptida angiotensin II dan dipeptida histidil-leucine inaktif atau biasa disebut sebagai “converting enzyme” dari plasma kuda(3). Melalui penemuan tersebut sekaligus mampu mengetahui mekanisme kerja enzim itu (Gambar 1.)(4), namun pada masa itu belum ada gambaran terkait tujuan untuk menjadi target sebuah metode uji aktivitas secara in vitro. Berselang sekitar sebelas tahun (1968-1969) kemudian dengan ditemukannya radiometric assay menggunakan label angiotensin I sebagai substrat, dimana pelepasan radioactive histidil-leusin yang berfungsi sebagai indeks aktivitas enzimatik(5) dan selanjutnya dikembangkan metode untuk chemical assay dari angiotensin converting enzyme, yang berdasarkan pada penentuan histidil-leusin secara fluorometri yang merupakan produk reaksi enzimatik pada substrat yang berbeda(6). Pada tahun 1970-1971, adalah Cushman & Cheung  yang telah berhasil menemukan metode spectrophotpmetric assay untuk pengukuran jumlah angiotensin converting enzyme (ACE) membentuk asam hipurat dari HHL yang bertindak sebagai subtrat(7). Pada tahun 1977-1978, Carmel dan Yaron mengembangkan suatu metode pengukuran aktivitas penghambatan ACE dengan menggunakan substrat o-aminobenzoilglisil-p-nitrofenilalanilprolin yang kemudian dihidrolisis menjadi o-aminobenzoilglisil(8) dan bersamaan dengan itu Hayari, M., et.al., mengembangkan suatu metode uji aktivitas penghambat ACE secara spektrofotometry menggunakan HHL sebagai subtrat dan 2,4,6-trichloro-s-triazine (TT) sebagai reagent colorimetrik pada asam hipurat yang terbentuk(9), metode ini merupakan metode sederhana, cepat dan lebih akurat daripada metode yang dikembangkan oleh Cusman dan Cheung. Pada tahun 1979-1991, beberapa penelitian tentang penggunaan subtrat selain HHL untuk metode spectrophotometric assay untuk aktivitas penghambat ACE  meliputi penggunaan substrat tripeptida furanacryloyl (FAPGG)(10) oleh Holmquist B., et.al.,  penggunaan substrat benzoil-[l-14C]glicil-L-histidil-L-leusin(11) oleh Baudin B., et.al.,  penggunaan  substrat the chromophore- and fluorophore-labelled tripeptide dansyltriglycine(12) oleh Elbl dan Wagner. Sejak 1993, telah dimulai pengembangan metode aktivitas penghambat ACE menggunakan HPLC, misalnya metode yang dikembangkan oleh Doig, et.al., menggunakan  shielded hydrophobicphase (SHP) column dan HHL sebagai substrat(13) dan Nakamura, et.al., telah melakukan pemurnian dan karakterisasi ACE inhibitor menggunakan HPLC(14). Awalnya semua metode yang terus dikembangkan hanya digunakan pada senyawa murni belum di digunakan pada sampel yang mengandung multi compound seperti pada ekstrak tanaman, sehingga pada tahun 1995 baru dimulai diaplikasikan pada ekstrak tumbuhan(15) oleh Klaus Hansen, dkk. Pada tahun 2007, Lam, L.H., et.al., berhasil mensintesis dan menggunakan 3HB-GGG sebagai subtrat dalam uji Aktivitas ACE Inhibitor(16) yang penggunaannya sangat aplikatif terhadap sampel dari ektrak tumbuhan.

Gambar 1 Skema pembentukan angiotensin II oleh ACE(4)

Gambar 1 Skema pembentukan angiotensin II oleh ACE(4)

Dengan ditemukannya berbagai metode uji aktivitas penghambat ACE dan metode ini sangat aplikatif dalam melakukan uji pada bahan alam, sehingga penelitian bahan alam terutama yang memiliki potensi aktif dapat dilakukan pengujian secara cepat, akurat, dan sederhana sehingga para peneliti bahan alam lebih berfokus dalam pengembangan metode ekstraksi, fraksinasi, dan isolasi untuk pengayaan dan dereplikasi senyawa yang telah terbukti aktif. Pemilihan metode uji aktivitas penghambat ACE hanya didasarkan pada ketersediaan substrat dan instrumen untuk pengukuranya misalnya spektrofotometer, fotofluorometer, HPLC, dan lain-lain.

Be Sociable, Share!